Profil Klub PSIS Semarang

4124bc0a9335c27f086f24ba207a4912

› Deskripsi singkat Tim

› Pelatih, pengurus dan pemain

› Prestasi

Deskripsi Singkat Tim PSIS Semarang

Sejak pertama kali berdiri, PSIS sudah dikenal sebagai tim medioker di kompetisi Perserikatan Indonesia. Kurang maksimalnya dukungan dari Pemda yang (mungkin) mewakili karakteristik warga Semarang yang cenderung menyukai hasil yang didapat secara instant dan cepat puas sehingga prestasi tim ini pun tidak bagus tapi juga tidak bisa dikatakan jelek.

Terbukti PSIS baru bisa mencicipi gelar juara ditahun 1987 dengan mengalahkan Persebaya di final kompetisi perserikatan PSSI dengan skor 1-0 melalui gol tunggal Ribut Waidi. Karena faktor terlalu cepat puas ini (apalagi ditambah keberhasilan punggawanya dalam merebut medali emas SEA GAMES yang pertama kali bagi Indonesia) maka dikompetisi berikutnya PSIS nyaris terjerumus dalam lubang degradasi ditambah dengan “campur tangan” Persebaya yang bermain untuk kalah 12-0 dari Persipura. Untung saja PSIS masih mampu bertahan dan terus bertahan dengan peringkat tim medioker.

Pada awal Liga Indonesia I (Liga Dunhill) tahun 1994, PSIS yang walaupun sempat membuat sedikit kejutan seperti saat mengalahkan Persebaya 3-0 di Stadion 10 November Surabaya, tapi tetap saja prestasinya dipapan tengah yang cenderung kebawah. Ditambah lagi dengan sangat minimnya penonton yang tiba2 menurun drastis karena “kuningisasi” yang dilakukan Gubernur Jateng saat itu dan disaat bersamaan prestasi saudara mudanya BPD Jateng juga meningkat, jadilah PSIS sebagai tim yang ngenes. Juara Liga Tahun ini adalah Persib Bandung yang secara konroversial mengalahkan Petrokimia Putra dengan skor tipis 1-0.

Liga Indonesia II (Liga Dunhill) tahun 1995, prestasi PSIS masih stagnan di papan tengaqh, hanya saja dari segi penonton sudah mulai ada peningkatan. Hal ini disebabkan karena mulai masuknya pemain impor yang menarik penonton untuk menyaksikan aksinya serta seragam yang kembali ke warna kebesaran BIRU. Ditambah lagi dengan campur tangan kekuasaan Gubernur Jateng saat itu yang membuat tim BPD Jateng hanya boleh diisi oleh pemain PON yang miskin pengalaman dan bahkan saat pelatih mencoba untuk menurunkan pemain non PON, dia pun dipecat dari pekerjaannya padahal hasilnya adalah kemenangan. Juara Liga adalah Bandung Raya yang (juga) secara controversial mengalahkan PSM Makasar 2-0.

Liga Indonesia III (Liga Kansas) tahun 1996, ada sedikit peningkatan prestasi PSIS dengan “nyaris” menembus babak 12 besar. Gairah sepakbola Semarang pun seolah bangkit dari tidurnya. Dukungan dari Pemerintah mengalir dan Penonton pun semakin membanjir. Stadion Jatidiri (kapasitas 25.000) yang di LI I mencatat rata-rata penonton 500 orang dan di LI II dengan rata-rata penonton 15.000 orang, kali ini selalu full alias 25.000 orang. Juara Liga adalah Persebaya yang mengalahkan Bandung Raya 3-1.

Liga Indonesia IV tahun 1997, imbas dari prestasi yang meningkat membuat PSIS mulai bergairah dan diperhitungkan di kancah sepakbola nasioanl. Sayang sekali saat itu liga harus dihetikan karena krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia.

Liga Indonesia V tahun 1998 menjadi puncak prestasi dari PSIS. Dilatih oleh Edi Paryono, PSIS akhirnya menggondol gelar juara setelah di final yang menjadi “partai usiran” karena harus terbang ke Manado dengan semangat balas budi atas meninggalnya 11 orang supporter PSIS di Manggarai, PSIS bermain kesetanan dan mengalahkan Persebaya dengan skor tipis 1-0 melalui gol Tugiyo di injury time babak ke II. Sayang sekali prestasi ini sepertinya kurang bernilai karena Liga saat itu dibagi oleh banyak grup (3 wilayah 5 grup). PSIS berhak mewakili Indonesia ke Piala Champion Asia dan sayangnya langsung tunduk dari Samsung Suwon Blue Wings dengan skor 3-2 dikandang dan 6-2 ditandang.

Terlena dengan gelar yang sudah diraih di Liga Indonesia VI tahun 1999, PSIS terlambat menyiapkan tim dan dukungan dana tiba2 macet. Kerusuhan di partai pembukaan saat PSIS takluk dari Barito Putra 2-0 seakan menjadi tanda2 yang tidak baik. Dan ternyata semua itu terbukti, kenyataan pahit itupun harus diambil. PSIS degradasi ke Divisi I, sekaligus mencatatkan diri sebagai tim pertama yang terdegradasi setelah mencapai gelar juara ditahun sebelumnya. Juara Liga adalah PSM Makasar yang mengalahkan Persija.

Tersentak (lagi) oleh kenyataan pahit tersebut, manajemen tim pun bertindak. PSIS harus kembali ke Divisi Utama, begitu tekad mereka. Dan ternyata tekad itu terwujud, PSIS menjadi juara Kompetisi Divisi I tahun 2000 sekaligus kembali promosi ke Divisi Utama. Tahun ini ditandai pula dengan berdirinya komunitas supporter PSIS bernama Panser Biru. Sementara juara Divisi Utama adalah Persija yang berhasil revans atas PSM Makasar.

Liga Indonesia VII tahun 2001 (Liga Bank Mandiri), PSIS tetap menempati posisi di papan tengah seperti biasanya. Tidak ada sesuatu yang special, semuanya datar-datar saja. Tahun ini giliran (kalo gak salah) PSMS yang jadi juara. Liga Indonesia VIII tahun 2002 (Liga Bank Mandiri), PSIS masih belum beranjak dari papan tengah dan bahkan nyaris degradasi. Untung saja 2 kemenangan kandang terakhir menyelamatkan PSIS dari jurang dgradasi. Juara tahun ini adalah Petrokimia Putra yang pada final yang memalukan (GBK banjir) mengalahkan Persita 2-1 (perpanjangan waktu).

Liga Indonesia IX (Liga Bank Mandiri) tahun 2003, menjadi tonggak sejarah dimana semua peserta saling bertemu karena system turnamen yang tidak membagi wilayah lagi. Alih-alih berprestasi, PSIS masih belum mampu beranjak dari papan tengah kebawah. Juara Liga tahun ini adalah Persik Kediri yang fenomenal karena ditahun sebelumnya berada di Divisi I. Liga Indonesia X (Liga Bank Mandiri) tahun 2004, masih dengan format 1 wilayah. prestasi PSIS mulai menanjak naik walaupun belum bisa meraih gelar juara yang pada tahun ini diraih oleh Persebaya Surabaya. Liga Indonesia XII (Liga Djarum Indonesia) tahun 2005, prestasi PSIS semakin membaik. Ditangan pelatih Bambang Nurdiansyah, PSIS berhasil meraih posisi ketiga. Sebenarnya hasil yang dicapai bisa lebih baik kalau saja di partai 8 besar wasit bisa lebih netral saat PSIS jumpa dengan tuan rumah Persija dan Persebaya tidak mogok main. Juara tahun ini adalah Persipura Jayapura. Ditahun ini ada sesuatu yang baru dimana Piala Indonesia (Copa Dji Sam Soe) untuk pertama kali dimainkan. Sayangnya PSIS hanya sampai babak 16 besar karena terhenti langkahnya oleh Persijap Jepara. Juara ajang ini adalah Arema Malang.

Liga Indonesia XII (Liga Djarum Indonesia) tahun 2006, ditangan pelatih sekaliber Sutan Harhara ditambah dengan materi yang tidak bayak berubah (bahkan ditambah dengan individu2 muda bertalenta), semoga PSIS bisa meraih hasil yang lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Pelatih, pemain dan pengirus Tim PSIS Semarang

Manager : Yoyok Sukawi

Prestasi yang diraih Tim PSIS Semarang

1. LI 1 - Posisi ke-13 Wilayah Timur
2. LI II - Posisi ke-10 Wilayah Timur
3. LI III - Posisi ke-6 Grup Tengah
4. LI V - Juara
5. LBM 2000 - Degradasi Divisi I
6. LBM 2001 - Promosi Divisi Utama
7. LBM 2002 - Posisi ke-8 Grup A
8. LBM 2003 - Posisi ke-13
9. LBM 2004 - Posisi ke-10
10. Liga Indonesia 2005 - Posisi ke-3