Domain For Sale! You can buy this domain

Opini Bola

Kasak-Kusuk Sepakbola Indonesia

Kalau di ajang balap jet darat-F1-dikenal adanya silly session atau musim kasak kusuk, maka di Indonesia hal serupa juga terjadi di gelanggang sepakbola nasional. Di F1, silly session adalah situasi dimana banyak bermunculan gosip-gosip atau isu-isu tentang perpindahan pembalap dari satu tim ke tim yang lain, situasi itu biasanya berlangsung di tengah musim balap berlangsung. Pun demikian halnya dengan yang terjadi di dunia sepakbola Indonesia, tetapi kalau di Indonesia silly session biasanya berlangsung jelang musim kompetisi dimulai.

Tetapi yang agak melegakan, ternyata musim kasak-kusuk tahun ini agak berbeda dengan tahun lalu. Jelang digulirkannya musim kompetisi tahun 2006, para pemain nasional kita banyak yang dilirik oleh tim-tim manca (meskipun baru sebatas di Malaysia). Ini menunjukkan bahwa ternyata sedikit demi sedikit pemain Indonesia setidaknya telah diakui kehebatannya. Ambil contoh Bambang Pamungkas dan Ellie Aiboy yang sukses bersama Selangor FC. Dua orang ini berhasil mengantar Selangor FC merengkuh trebble winner sekaligus mempromosikannya ke kasta tertinggi kompetisi sepakbola di Malaysia. Kedua pemain itu kini bisa disebut sebagai idola baru publik Selangor dan tentu imbasnya mata uang ringgit seolah tiada henti masuk ke kas mereka.

Kini, nama-nama seperti Ponaryo Astaman, Boaz dan Ortizan Solossa, sampai Ilham Jayakesuma, dan sederet bintang sepakbola nasional kelas satu telah diantre tandangtangannya oleh banyak klub sepakbola Malaysia. Bahkan pelatih nasional tersukses tahun lalu, Rahmad Darmawan, juga tidak luput dari incaran bos-bos tim sepakbola negeri serumpun kita itu. Sebagai bagian dari pelaku sepakbola nasional, tentunya kita turut bangga dengan kondisi demikian. Dan pada kenyataannya memang mereka lebih baik bermain di kompetisi manca daripada bermain di kompetisi dalam negeri. Mengapa?, semua pasti sudah tahu jawabannya. Demi keselamatan karir bermain dan menumbuhkan sikap fair play dan profesionalisme sejati seorang olahragawan.

Diluar berita banyak diminatinya pemain-pemain Indonesia di Malaysia, seperti tahun-tahun sebelumnya, kasak-kusuk yang ada masih berkutat pada perombakan sistem penyelenggaraan liga, bangkrutnya sebuah klub sepakbola, sampai pada masalah kontrak antara pemain maupun pelatih dengan klub yang bermasalah. Namun, untuk saat ini terdapat satu hal yang kasak-kusuknya tidak terlalu terdengar atau bahkan memang tidak diperdengarkan. Apakah itu?, wasit. Padahal musim liga yang baru saja berakhir kemarin, kinerja korps baju hitam begitu buruk dan amburadul. Meskipun ada juga wasit-wasit yang kinerjanya menunjukkan nilai memuaskan. Tetapi walau saat ini kasak-kusuk tentang wasit tidaklah terdengar, semoga saja pihak-pihak yang berwenang mengurusi masalah wasit tidak lantas diam apalagi enggan melakukan evaluasi diri. Karena bagaimana pun juga wasit adalah ujung tombak bagi terciptanya liga sepakbola yang berkualitas, selain pengurus sepakbolanya tentu.

Memasuki musim kompetisi tahun 2006 ini, kasak-kusuk yang sudah menjadi kenyataan adalah pengurus PSSi membuat gebrakan dengan mulai mengefektifkan suatu badan otonom yang mengurusi liga sepakbola nasional khususnya Divisi Utama, Satu, Dua, dan Piala Indonesia. Kebijakan ini tentu saja membawa angin segar bagi iklim kompetisi yang dari tahun ke tahun banyak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan para pengurus PSSI. Seperti halnya liga sepakbola di Italy yang kompetisinya dikoordinir oleh badan otonom yang beranggotakan utusan klub-klub peserta, pada Badan Liga Indonesia (BLI) juga sedemikian. Ketua BLI untuk tahun ini adalah Nirwan.D.Bakrie yang notabene adalah pemilik klub Pelita Jaya (klub peserta divisi satu), anggotanya pun juga tidak sedikit yang berlatarbelakang klub-klub semi profesional di Indonesia. Dengan struktur dan komposisi BLI tersebut diharapkan bisa mengakomodir aspirasi klub-klub peserta liga Indonesia yang kadangkala macet ketika sampai ke induk organisasi sepakbola nasional.

Gebrakan BLI sungguh kita nanti-nantikan dalam rangka mengeluarkan kompetisi sepakbola nasional dari iklim yang buruk. Namun yang patut mendapat catatan, bahwa masih terdapat beberapa nama pengurus PSSi masuk dalam struktur kepengurusan BLI. Seperti diketahui, hampir semua pelaku sepakbola nasional pasti memiliki (meskipun) sedikit rasa tidak percaya terhadap mental dan kinerja pengurus PSSI. Tetapi demi majunya sepakbola Indonesia, kita hanya bisa berdoa dan senantiasa mengingatkan agar mereka dalam mengemban amanah, tidak terjebak dalam kepentingan sesaat sehingga malah menjerumuskan sepakbola nasional pada jurang kehancuran.

Akhirnya kita semua berharap agar kualitas sepakbola nasional segera bangkit agar tidak semakin tertinggal dari negeri-negeri tetangga kita, apalagi untuk beberapa puluh tahun kedepan, pesaing di kawasan Asia bertambah lagi, siapa itu?, Harry Kewell, Zlejko Kalac, Tim Cahill, Mark Viduka, dkk. Mampukah kita bersaing dengan mereka?, sungguh suatu pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan bahasa fair play dan profesionalisme seorang olahragawan sejati.(Ari Dwi Prasetyo (Pemerhati Sepakbola Indonesia))

0 komentar untuk "Kasak-Kusuk Sepakbola Indonesia"

Leave a Reply