Opini Bola
Ketika PSSI Tak Lagi Berpikir Sehat
Bukan hanya di kompetisi Liga Djarum Indonesia 2005 yang berakhir dengan kasus pengunduran diri Persebaya Surabaya, Arema Malang juga dikerjain ketika harus menyelesaikan babak delapan besar PSSI di kandang tim Mutiara Hitam Persipura Jayapura di Stadion Mandala.
Di kejuaraan Copa Dji Sam Soe Indonesia 2005 yang baru berlalu akhir minggu lalu pun, tim ”kera ngalam” itu kembali dikerjain. Tentu bukan hanya sekitar 40.000 pasang mata di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, saja yang dapat menyaksikan hal tersebut.
Para pemirsa yang ikut menyaksikan siaran langsung di TV7 atau ANTV pun dapat melihat sendiri bagaimana tangan PSSI melalui wasit Jajat Sudrajat berulah menguntungkan Persija. Lagi pula, Jajat bukanlah wasit terbaik saat ini.
Hingga kini baru wasit Purwanto asal Kediri yang kita tahu sebagai wasit terbaik sekalipun ia masih belum jera dengan bogem mentah pemain maupun penonton dalam kompetisi PSSI di periode Haji HM Nurdin Halid. Ada lagi wasit Muklis Serang yang secara sadar meninggalkan arena kompetisi kita karena enggan mandi ”kotoran” dunia sepak bola kita.
Copa Dji Sam Soe
Belum lagi PSSI mampu menyelesaikan berbagai skandal dalam kompetisi Liga Indonesia maupun turnamen Copa Indonesia, mendadak pengurus PSSI membuat persoalan baru. Secara sepihak, mereka menghentikan sama sekali kejuaraan Copa Dji Sam Soe Indonesia yang mampu mempertemukan klub-klub dari Divisi Utama untuk bertarung dengan Divisi I atau dengan klub dari Divisi II.
Padahal, kejuaraan dengan sponsor PT HM Sampoerna Tbk ini sudah disetujui bersama PSSI untuk bergulir selama tiga tahun. Dengan catatan setiap tahun turnamen tersebut harus dievaluasi. Sebagai sponsor, PT HM Sampoerna Tbk memiliki kewajiban untuk menyediakan dana. Pada tahun pertama, dana yang digulirkan sebesar Rp 6,5 miliar. Tahun kedua dinaikkan menjadi Rp 6,9 miliar, dan tahun ketiga meningkat lagi menjadi Rp 7 miliar.
Jelas, kejuaraan yang mencontoh apa yang sudah berlangsung di negeri asal cabang sepak bola ini—Inggris Raya, yang juga terkenal dengan FA Cup-nya. Di mana semua klub, baik amatir maupun profesional serta klub dari divisi utama, dapat saling berhadapan dengan klub dari divisi yang lebih rendah—merupakan kejuaraan yang istimewa. Hal serupa juga dapat dilihat di Italia atau beberapa negeri Eropa lainnya.
Sebagai gantinya, PSSI justru menawarkan turnamen yang mereka sebut Piala Super. Kejuaraan ini hanya akan mempertemukan delapan klub terbaik dari Divisi Utama dengan delapan tim terbaik dari Divisi I. Alasan menghapus Copa dan menawarkan Piala Super, menurut Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes, selain karena keinginan PSSI meningkatkan mutu kejuaraan, juga karena uang yang diperoleh dari sponsor terlalu kecil.
Tindakan ini benar-benar telah menyalahi memorandum of understanding (MOU) antara pihak PSSI dan PT HM Sampoerna Tbk. Sebab, sebagai sebuah institusi, seharusnya PSSI membicarakan rencana mereka bersama PT HM Sampoerna. Lain lagi kalau PSSI adalah lembaga preman yang memang terbiasa dengan main paksa tanpa kenal aturan sedikit pun.
Sebenarnya, kalau ingin meningkatkan kualitas kejuaraan, bukan dengan cara mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali kejuaraan yang sudah ada. Tetapi, justru lebih baik berinovasi agar dapat menggelar turnamen lain yang dapat menambah jumlah pertandingan sehingga dapat memicu peningkatan prestasi sepak bola kita.
Sebab, untuk pembinaan yang baik, menurut Sekretaris Jenderal Konfederasi Sepak Bola Asia (Asian Football Confederation/AFC) Peter Velappan saat berkunjung ke Jakarta, sedikitnya dalam satu tahun suatu klub harus dapat melakukan pertandingan sebanyak 40 kali. Tentu, kalau bisa lebih banyak, akan jauh lebih bagus.
Minimnya kompetisi dan turnamen dalam negeri sudah dapat kita saksikan sendiri. Contoh paling mudah adalah saat partai final Copa Dji Sam Soe Indonesia 2005. Tim Macan Kemayoran yang memiliki pemain bintang ternyata fisiknya tidak bisa diandalkan. Akibat kedodoran di stamina, keunggulan teknik yang mereka miliki sama sekali tidak memberikan nilai lebih. Hasilnya hanya kekalahan, baik di final Liga Indonesia maupun final Copa Indonesia.
Sekarang dapat kita lihat sendiri, dari klub Divisi Utama yang terbagi dalam dua wilayah berikut sistem home and away pun jumlah pertandingannya di Liga Indonesia masih jauh di bawah jumlah yang disebutkan Sekretaris Jenderal AFC. Begitu juga ketika ditambah dengan pertandingan di turnamen Copa Indonesia, yang sekalipun menggunakan home and away, tetapi kesebelasan yang kalah agregat harus langsung pulang kampung.
Dengan demikian, praktis satu klub di Divisi Utama sekalipun paling banyak hanya akan memainkan 30 pertandingan, itu pun dengan catatan kalau mereka mampu lolos ke babak 16 Copa Indonesia. Oleh sebab itu, tugas PSSI sebenarnya memikirkan bagaimana caranya agar dapat meningkatkan jumlah pertandingan masing-masing klub yang menjadi anggotanya. Introdusir Piala Super mungkin salah satu cara meningkatkan frekuensi pertandingan. Dengan catatan, bukan malah menghilangkan Copa Indonesia.
Sebab, sekalipun baru beberapa bulan berlangsung, secara perlahan tetapi pasti, apa yang kerap kita bicarakan tentang ”industri sepak bola” sudah mulai terbangun. Dan, ingat, hanya melalui turnamen Copa Indonesia klub Gaspa Palopo atau Persiter Ternate yang sudah naik pangkat ke Divisi Utama tahun depan memiliki kesempatan menjajal PSM Makassar.
Tentu kehadiran PSM Makassar ke Ternate atau Palopo akan menjadi tontonan istimewa bagi masyarakat setempat. Sebab, saat itulah ekonomi kecil di seputar stadion tempat pertandingan kedua kesebelasan mulai bergeliat. Tentu kejadian serupa juga terjadi di sedikitnya dua puluh Kota Kabupaten lainnya tempat berlangsungnya turnamen Copa Indonesia. Apa geliat industri sepak bola seperti itu juga yang kemudian ingin dibunuh oleh PSSI, kita lihat saja.
Sebelumnya pun, PSSI sudah memperlihatkan perlakuan yang tidak profesional dalam penyusunan jadwal pertandingan Liga Indonesia maupun Copa Indonesia. Banyak terjadi perubahan jadwal. Entah karena pesanan klub-klub yang mampu membeli PSSI, karena memang ada masalah pemilihan pimpinan daerah setempat, atau memang karena ulah segelintir pengurus PSSI yang masih berusaha dapat kucuran dana liar dari sponsor.
Tentu, dalam kompetisi Liga Indonesia 2006 atau Copa Indonesia atau Piala Super atau kejuaraan apalah namanya, tidak boleh ada lagi perubahan jadwal. Dengan begitu, bukan hanya klub dan sponsor yang diuntungkan, tetapi juga para penggila bola di Tanah Air.
PSSI sendiri berharap perseteruan yang bakal muncul dari kebijakan sepihak mereka memunculkan Piala Super ini dapat diselesaikan secara baik-baik dengan pihak PT HAM Sampoerna Tbk. ”Kami juga sudah bicara dengan Angky Camaro, Direktur Pelaksana PT HM Sampoerna Tbk, kelihatannya mereka bisa mengerti,” kata Sekretaris Jenderal PSSI Noegraha Besoes.
Pihak PT HM Sampoerna Tbk sendiri hingga saat ini sama sekali belum mendapat kepastian apa memang benar-benar Copa Indonesia tahun depan itu dihentikan sama sekali atau Copa Indonesia berjalan dan Piala Super juga berlangsung.
Yang jelas, menurut Henny Susanto, Manajer Produksi PT HM Sampoerna Tbk Grup, pihak mereka akan berpedoman kepada MOU yang sudah ditandatangani bersama PSSI, yang menyebutkan kalau turnamen Copa Indonesia ini akan berlangsung selama tiga tahun.
Tidak konsistennya sikap PSSI terhadap apa yang sudah tertuang dalam MOU mereka dengan PT HM Sampoerna Tbk sudah terlihat dari komentar Muhammad Zein yang juga Ketua Umum Asosiasi Klub Profesional (Akpro).
Dalam kasus piala bergilir Copa Dji Sam Soe Indonesia, menurut Zein, semua itu sangat tergantung suka-sukanya mereka yang mengurusnya.
Mudah-mudahan skandal penghentian Copa Dji Sam Soe Indonesia yang kemudian diganti dengan Piala Super, tahun depan nanti, bukan karena ada segelintir orang yang sedang melakukan penekanan PT HM Sampoerna Tbk untuk mendapat dana liar.
Karena sepeninggal Ketua Umum Haji HM Nurdin Halid, pengurus PSSI lainnya bukan seperti anak ayam kehilangan induknya. Sebaliknya, mereka dapat menikmati kebebasan yang justru cenderung menghilangkan daya jelajah pemikirannya untuk terus-menerus mencari pola, cara, dan model guna meningkatkan sepak bola kita.
Nama Nirwan Bakrie yang kini menjadi Ketua Badan Liga Indonesia tentu menjadi harapan para pencinta sepak bola nasional. Pengalamannya membentuk tim yunior Indonesia di Italia tentu menjadi modal agar ia mampu mengendalikan BLI berikut stafnya yang mulai aktif bekerja tahun 2006.
Pasalnya, semua pencinta sepak bola nasional masih yakin bahwa, jika mereka yang terpilih sebagai pengurus PSSI tidak menggantungkan hidupnya di sana, sepak bola kita akan maju.
( Korano Nicolash LMS / diambil dari Harian KOMPAS )
Artikel lain
5 komentar untuk "Ketika PSSI Tak Lagi Berpikir Sehat"
-
maju persija buat PSSI terpana menangkan ldi x ini ok .fuck viking,la viola,bonek,aremania,dll yang nantang the jakmania.by:erick28
-
pssi oyo dong kapan INA bisa maju k World Cup ampe kiamat kaga mungkin x ya klw manajemennya kaya gitu terus.Toek persija maju terus hancurkan lawan2mu from:jak mania cempaka putih yang mau INA ke world CUP
-
hargai para pemain dengan kompensasi yang setimpal,mereka udah susah payah berusaha menjadi pemain profesional tapi PSSi sendiri brutal..timnas biar diwakili pengurus PSSI aja, pasti menang..uangnya kan banyak bisa buat NYOGOK wasit..HA..HA..dan ga salah
-
Gimana nggak pada memeperkaya diri sendiri, wong ketuanya aja KORUPTOR LAKNATULLAH!!!!
-
saya setuju dng semua komentar tentang buruknya PSSI sekarang ini semua pengurus pada bisnis dan berusaha memperkaya diri tanpa peduli kelangsungan sepak bola indonesia saya harap ada yang bisa menolong sepak bola kita, dan turunkan semua pengurus yang
Leave a Reply
Hasil Pertandingan
| PERSELA | PERSIJAP | |
| SEMEN PADANG | PELITA JAYA | |
| DELTRAS | PERSIJAP | |
| SRIWIJAYA | PERSIB | |
| PSPS | AREMA |
Detail score pertandingan
Klasemen Liga
| # | Klub | Mn | Mg | S | K | SG | P |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Persipura | 7 | 6 | 1 | 0 | 24 - 3 | 19 |
| 2 | Semen Padang | 8 | 5 | 2 | 1 | 13 - 5 | 17 |
| 3 | Persija | 8 | 5 | 2 | 1 | 12 - 4 | 17 |
| 4 | Arema Indonesia | 8 | 4 | 2 | 2 | 14 - 6 | 14 |
| 5 | PSPS | 7 | 4 | 1 | 2 | 9 - 7 | 13 |
| 6 | Persiba | 10 | 3 | 3 | 4 | 14 - 14 | 12 |
| 7 | Persijap | 6 | 3 | 1 | 2 | 8 - 9 | 10 |
| 8 | Persela | 10 | 2 | 4 | 4 | 6 - 11 | 10 |
Detail klasemen
| # | Klub | Mn | Mg | S | K | SG | P |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Persidafon | 6 | 5 | 0 | 1 | 15 - 3 | 15 |
| 2 | Persigo | 7 | 4 | 1 | 2 | 9 - 7 | 13 |
| 3 | Persiba | 5 | 3 | 1 | 1 | 7 - 2 | 10 |
| 4 | PS Barito | 8 | 3 | 1 | 4 | 8 - 6 | 10 |
| 5 | Persebaya | 6 | 3 | 0 | 3 | 9 - 7 | 9 |
| 6 | PSBI | 5 | 3 | 0 | 2 | 4 - 3 | 9 |
| 7 | Persekam | 5 | 3 | 0 | 2 | 6 - 7 | 9 |
| 8 | PSIR | 5 | 2 | 1 | 2 | 4 - 4 | 7 |
Detail klasemen
| # | Klub | Mn | Mg | S | K | SG | P |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | PSIM | 6 | 4 | 1 | 1 | 8 - 2 | 13 |
| 2 | Mitra Kukar | 5 | 4 | 0 | 1 | 9 - 4 | 12 |
| 3 | Persik | 6 | 4 | 0 | 2 | 9 - 4 | 12 |
| 4 | Perseman | 6 | 3 | 2 | 1 | 5 - 1 | 11 |
| 5 | PSCS | 7 | 3 | 2 | 2 | 6 - 3 | 11 |
| 6 | Persemalra | 8 | 3 | 0 | 5 | 6 - 7 | 9 |
| 7 | Persikab | 7 | 2 | 2 | 3 | 5 - 7 | 8 |
| 8 | Persikota | 5 | 2 | 1 | 2 | 3 - 2 | 7 |
Detail klasemen
| # | Klub | Mn | Mg | S | K | SG | P |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Persiraja | 5 | 5 | 0 | 0 | 12 - 4 | 15 |
| 2 | PSLS | 7 | 3 | 3 | 1 | 6 - 6 | 12 |
| 3 | Persita | 5 | 3 | 2 | 0 | 10 - 1 | 11 |
| 4 | Persipasi | 5 | 3 | 1 | 1 | 8 - 2 | 10 |
| 5 | PSAP | 5 | 3 | 1 | 1 | 8 - 3 | 10 |
| 6 | Persitara | 6 | 3 | 1 | 2 | 10 - 8 | 10 |
| 7 | PSSB | 7 | 1 | 4 | 2 | 5 - 6 | 7 |
| 8 | Persih | 6 | 2 | 1 | 3 | 6 - 9 | 7 |
Detail klasemen
Jadwal Pertandingan
| PERSELA | PERSIJAP | |
| SEMEN PADANG | PELITA JAYA | |
| DELTRAS | PERSIJAP | |
| SRIWIJAYA | PERSIB | |
| PSPS | AREMA | |
Detail jadwal
Polling
Pantas
Tidak Pantas
Tidak Tahu
Biasa Saja
Show result

