Domain For Sale! You can buy this domain

Opini Bola

Membangun Aspek Kepemimpinan Bagi Ketua Suporter

Akhir-akhir ini media cetak maupun elektronik sering memberitakan tentang aksi negative para oknum-oknum supporter di berbagai daerah. Efek dari kerusuhan atau aksi anarkis tersebut biasanya berimbas dengan adanya kecaman atau tudingan sepihak bahwa Ketua/ pimpinan dari Kelompok Suporter tersebut telah gagal mengendalikan massa anggotanya.

Tudingan atau kecaman yang bersifat sepihak tersebut mungkin hanya didasari oleh sepenggal fakta tunggal yang tidak ditelusuri secara mendalam lesensi latar belakang permasalahannya. Sebenarnya faktor kepemimpinan seorang Ketua Suporter untuk memotivasi anggota untuk bertindak santun dan positif sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya (EQ-nya). Paling tidak (ada enam keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, sebelum dia dapat memimpin orang lain, yaitu:

Mengenali emosi diri

Keterampilan ini meliputi kemampuan kita untuk mengidentifikasi apa yang sesungguhnya kita rasakan. Setiap kali suatu emosi terhadap kelompok supporter lain atau kejadian di stadion muncul dalam pikiran, kita harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan. Ketidakmampuan untuk mengenali perasaan membuat kita berada dalam kekuasaan emosi kita, artinya kita kehilangan kendali atas perasaan kita yang pada gilirannya membuat kita kehilangan kendali atas diri dan hidup kita.

Mengelola emosi diri sendiri

Ada beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri, yaitu: pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada kita. Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya. Ketiga adalah dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya. Kemampuan kita mengelola emosi adalah bentuk pengendalian diri (self controlled) yang paling penting dalam diri Ketua Suporter, karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi, bukan sebaliknya.

Memotivasi diri sendiri

Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam mendukung Klub Kebanggaan merupakan hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri (achievement motivation). Kendali diri emosional – menahan diri terhadap kepuasan hasil pertandingan dan mengendalikan dorongan hati – adalah landasan keberhasilan dalam berbagai aksi supporter.

Mengenali emosi anggota

Mengenali emosi anggota berarti kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan anggota kita. Penguasaan keterampilan ini membuat kita lebih efektif dalam berkomunikasi dengan anggota kita. Inilah yang disebut Covey sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti.

Mengelola emosi anggota

Jika keterampilan mengenali emosi anggota merupakan dasar dalam berhubungan antar anggota, maka keterampilan mengelola emosi anggota merupakan pilar dalam membina hubungan dengan kelompok supporter lain. Individu Suporter adalah makhluk emosional. Semua tindakan sebagian besar dibangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antar anggota. Keterampilan mengelola emosi anggota merupakan kemampuan yang dahsyat jika kita dapat mengoptimalkannya. Sehingga kita mampu membangun hubungan antar anggota yang kokoh dan berkelanjutan.

Memotivasi anggota

Keterampilan memotivasi anggota adalah kelanjutan dari keterampilan mengenali dan mengelola emosi anggota. Keterampilan ini adalah bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi anggota untuk mencapai tujuan bersama kelompok supporter yang dibelanya. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerja sama tim dalam kelompok supporter tersebut yang tangguh dan handal.

3 Jenis Motivasi

Jadi memotivasi anggota kelompok suporter, bukan sekadar mendorong atau bahkan memerintahkan anggota melakukan sesuatu, melainkan sebuah seni yang melibatkan berbagai kemampuan dalam mengenali dan mengelola emosi diri sang ketua itu sendiri dan anggota. Paling tidak kita harus tahu bahwa anggota melakukan sesuatu karena didorong oleh motivasinya. Ada tiga jenis atau tingkatan motivasi anggota, yaitu: pertama, motivasi yang didasarkan atas ketakutan (fear motivation). Dia melakukan sesuatu karena takut jika tidak maka sesuatu yang buruk akan terjadi, misalnya anggota patuh pada Ketua/ pimpinan suporter karena takut dipukul, anggota membeli karcis pertandingan karena takut tidak bisa masuk stadion.

Motivasi kedua adalah karena ingin mencapai sesuatu (achievement motivation). Motivasi ini jauh lebih baik dari motivasi yang pertama, karena sudah ada tujuan di dalamnya. Anggota mau melakukan sesuatu aksi karena dia ingin mencapai suatu sasaran atau prestasi tertentu.

Sedangkan motivasi yang ketiga adalah motivasi yang didorong oleh kekuatan dari dalam (inner motivation), yaitu karena didasarkan oleh misi atau tujuan hidup kelompoknya. Anggota yang telah menemukan misi kelompoknya beraksi dan berkreasi dalam stadion berdasarkan nilai (values) yang diyakininya. Nilai-nilai itu bisa berupa persahabatan/ menghargai pada sesama supporter. Anggota yang memiliki motivasi seperti ini biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Baginya bersorak dalam stadion bukan sekadar untuk memperoleh sesuatu (kepuasan, harga diri, kebanggaan, prestasi) tetapi adalah proses belajar dan proses yang harus dilaluinya untuk mencapai misi kelompok suporternya).

Untuk membangkitkan inner motivation dari anggota yang dipimpinnya dengan menetapkan berbagi misi atau sasaran yang akan dicapai. Kita sebagai pemimpin perlu berbagi dengan tim kita untuk secara bersama melihat visi secara jelas dan mengapa kita melakukannya. Motivasi yang benar akan tumbuh dengan sendirinya ketika anggota telah dapat melihat visi yang jauh lebih besar dari sekadar pencapaian target. Sehingga setiap anggota dalam organisasi kita dapat bekerja dengan lebih efektif karena didorong oleh motivasi positif dari dalam dirinya.

Hal kedua dan ketiga yang perlu dilakukan oleh seorang Ketua supporter/ pemimpin suporter adalah memberikan pujian yang tulus dan teguran yang tepat. Kita dapat membuat anggota melakukan sesuatu secara efektif dengan cara memberikan pujian, dorongan dan kata-kata atau gesture yang positif. Prinsip pertama dan kedua dalam menangani anggota, yaitu: (1) jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh, dan (2) berikan penghargaan yang jujur dan tulus. Anggota sebagai manusia pada prinsipnya tidak senang dikritik, dicemooh atau dicerca, tetapi sangat haus akan pujian dan apresiasi. Tetapi kritik atau teguran yang tepat seringkali justru diperlukan untuk membangun tim kerja yang kokoh dan handal. Yang penting dalam menegur anggota adalah bukan pada apa yang kita sampaikan tetapi cara menyampaikannya. Teguran yang tepat justru dapat menjadi motivasi dan menimbulkan reaksi yang positif.

Artikel ini hanya sekedar saran dan usulan dari seorang Warga Komunitas Suporter Indonesia dan tidak bermaksud untuk menggurui rekan-rekan yang menjadi Ketua/ Pentolan di Kelompok Suporternya masing-masing. Karena pada prinsipnya saya yakin suatu Ketua Suporter di setiap kelompok tentunya mempunyai cirri khas dan trik tertentu dalam berorganisasi. Yang terpenting adalah setiap kelompok supporter sebenarnya dibentuk untuk tujuan positif dan bermanfaat baik untuk motivasi pemain dan klub secara keseluruhan.

Regards
Panji Kartiko
Pasoepati Jakarta
www.maspanji.blogdrive.com(phery)

2 komentar untuk "Membangun Aspek Kepemimpinan Bagi Ketua Suporter"

  • Yepi Hendarman di Depok pada 01 Januari 1970 00:00:00
    ini baru tulisan yang WAJIB dibaca para Suporter, khususnya para kepala sukunya...biar dunia persuporteran damai sejahtera, aman sentosa, damai itu indah..seindah belahan dada gadis perawan yg seksi & cantik!
  • Jono di malang pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Top banget. semoga ferry indrasjarif jakmania dan heru joko viking bisa seperti itu.
1

Leave a Reply