Domain For Sale! You can buy this domain

Opini Bola

Wajah Sepakbola Indonesia

Berbicara persepakbolaan Indonesia untuk menuju prestasi, tahun 2006 ini jangan diharapkan terlalu muluk. Bahkan keikutsertaan Indonesia di Asian Games XV/2006 di Doha, Qatar, khusus di cabang sepakbola target Indonesia adalah partisipasi. Tidak harus memenuhi kriteria KONI Pusat, setiap cabang di Doha harus mampu meraih medali. Kata Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar, cabang sepakbola diberi kesempatan karena Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Asia 2007.

Bagi pecinta olahraga di Tanah Air, sepakbola bak cabang yang dibenci tetapi masih tetap dirindukan. Sekalipun sepi prestasi untuk ukuran internasional, seperti contoh hasil SEA Games 2005 lalu, sepakbola Indonesia tak mampu berbuat apa-apa. Artinya untuk kawasan ASEAN saja tak bisa berbicara banyak, apalagi di percaturan Asia ? Namun sebuah kompetisi sepakbola nasional tetap dinanti-nanti.

Tanpa merendahkan sebuah organisasi olahraga yang ketuanya dirundung masalah kriminal. Kita hargai usaha PSSI untuk tetap memutar roda kompetisi LI 2006, dengan usaha membentuk BLI, Badan Liga Indonesia, dengan maksud baik. Peningkatan kualitas kompetisi yang kinerjanya mulai LI 2006 ini. Meski masuknya tokoh lama sepakbola, Nirwan Bakri, ke BLI, juga sudah diwarnai rumor yang tak sedap. Terutama rumor dikembalikannya klub-klub yang sudah terdegradasi ke divisi I. Siapa itu ? Ya, pasti Pelita Jaya, klubnya Nirwan.

Bicara soal LI saja, segudang masalah masih tersisa yang semua mengundang kritik dan pesimistis. Sebuah kompetisi yang ideal yang muaranya adalah prestasi, yang tentu harus didukung dengan suasana kompetisi yang kondisif masih jauh dari kenyataan. Bosan kita mengulang-ulang lagi sebuah tulisan dari hasil kompetisi yang amburadul. Karena faktor X atau banyak “tangan-tangan” kotor ikut bermain. Semuanya bertujuan menang dengan cara apapun.

Demikian juga dengan ukuran dana yang dikucurkan untuk sepakbola Indonesia. Bisa membuat iri cabang-cabang olahraga lain. Contoh setiap klub yang mengikuti LI 2006, paling tidak harus menyediakan uang antara 5-8 milyar rupiah. Persija, Jakarta, bahkan menyediakan Rp 20 milyar. Atau contoh Persis, Solo, yang menjalani kompetisi divisi I, APBD, Anggaran Pembelanjaan Biaya Daerah sebesar Rp 4,7 milyar. Bandingkan dengan APBD untuk dana orang miskin yang hanya Rp 287 juta. Klub-klub perserikatan umumnya didukung oleh APBD. Tak heran, di Solo terjadi demo protes dari warganya dengan situasi seperti itu.

Demikian juga dengan bayaran pemain sepakbola LI yang setiap tahun bisa naik terus. Terutama pemain-pemain yang dianggap bagus, seperti yang diperebutkan antara Persija dan PSIS, Emanuel “Cachi” De Porras (Argentina ) berharga satu milyar rupiah. Meski Cachi akhirnya tetap di PSIS. Akibatnya Persija yang tahun 2005 babak belur, kini tampaknya tampil apa adanya. Pantas, kalau pendukungnya, The Jacks, kecewa berat. Tidak hadir dalam peluncuran Tim Persija ke LI 2006. Kecewa Persija tak mampu menggaet Cachi dan malahan membuang pemain terbaiknya, Aris Indarto.

Lagi sepakbola menjadi daya tarik utama untuk menarik sponsor. Pabrik Rokok Jarum tahun 2006 ini benar-benar all out. Sesudah membayar stasiun TV SCTV bagi hak siar Piala Dunia 2006 di Jerman sebesar Rp 90 milyar. Toh LI 2006 masih kebagian Rp 35 milyar. Sebenarnya sepakbola Indonesia sudah menjadi ajang bisnis besar, namun sampai sekarang belum ketemu seorang promotor yang mampu untuk menjadi EO, Event Organizer-nya. Semua berlangsung biasa-biasa saja. Padahal perputaran uang selama kompetisi LI 2006 diperkirakan sekitar Rp 300- Rp 500 milyar.

Sebenarnya dengan uraian di atas, perlu tuntutan prestasi terhadap sepakbola Indonesia. Bayangkan dari APBD yang diambil dari daerah masing-masing, yang nota bene adalah uang rakyat dan wajib dipertanggungjawabkan. Contoh, betapa baiknya penduduk Jakarta yang APBD 2005 sebesar Rp 24 milyar dihabiskan oleh Persija. Hasilnya ? Terpuruk di LI 2005, Piala Copa 2005, dan Piala Emas Bang Yos 2005. Apakah ada demo untuk Bang Yos?

Ini membuktikan bahwa di tengah kesulitan dan berbagai bencana alam yang kini tengah menimpa bangsa Indonesia. Rakyat masih tetap perlu hiburan. Apalagi kalau sudah menyangkut gengsi daerah, agaknya rakyat rela-rela saja kalau uangnya untuk kepentingan sepakbola. Euphoria di lapangan sepakbola bisa sejenak melupakan segala beban sehari-hari yang menindih.

Nah, kalau sudah demikian, peringatan buat insan persepakbolaan Indonesia. Artinya buat yang terbaik untuk menghibur rakyat. Toh, main seperti apapun, untuk ukuran prestasi masih jauh. Bikin rakyat senang menonton pertandingan sepakbola tanpa tawuran, atau bahkan jauhkan “perang etnis” di lapangan sepakbola.

Itu harapan kita? Mudah-mudahan!
 
Oleh : Baron Pasoepati (Forum Diskusi LigaIndonesia.com 13 Januari 2006)
(phery)

5 komentar untuk "Wajah Sepakbola Indonesia"

  • Wong Lamo di Palembank pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Impian harus di capai dengan kerja keras dulu, 1. stamina pemain suruh berlari 25 kali kllg lap.bola seperti yg dilakukan F.Lampard (Chelsea) lihat saja dia skrg
  • zulkifli di sulawesi-utara pada 01 Januari 1970 00:00:00
    sebenarnya indonesia punya pemain-pemain yang namun jam terbang mereka terbilang kurang karena kalah bersaing dengan pemain asing yang dibeli olehc club dimana dia bermain. contoh saat seagames petter with sulit mencari pemain kerena di club sudah di domi
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    pak admin koq kapasitasnya terbatas sih.... bagaimana mau urun rembug kalo gini????
  • crew kera ngalam di everywhere pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Sudah saatnya klub ber swasta tidak terpaku pada dana APBD yang jelas uang rakyat. Contohnya bentoel yang berani mengeluarkan uang milyaran dengan hasil yang dibilang tidak rugi karena klub yang didanai mampu menaikkan image serta tentu saja promosi bebas
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    seharusnya jangan tergantung dari APBD saja.Boleh sich dana dari APBD, tapi jangan 100% berharap dari situ.Tirulah klub-klub di luar negeri.Menjadikan klub sebagai suatu perusahaan, dana yang didapat berasal dari saham-saham para investor.Kita harus mampu
1

Leave a Reply