Domain For Sale! You can buy this domain

Opini Bola

Topeng Kontroversi PSSI

Hati saya tergelitik, lucu bercampur iba terhadap kasus memalukan yang tengah dihadapi PSSI. Ini tak lepas dari kondisi manajerial yang amburadul dalam organisasi olahraga terbesar di Indonesia itu. Dikategorikan amburadul sebab terjadi kesalahan elementer yang berakibat sangat fatal. Hanya karena teledor, peluang Arema dan Persipura berlaga di pentas Liga Champion Asia pupus.

Semoga urat malu para pengurus PSSI tidak putus. Bayangkan, hal sepele yang tak membutuhkan energi dan biaya besar tapi dampaknya luas dan memalukan. Sebenarnya cukup kirim faksimile atau e-mail konfirmasi keikutsertaan ke AFC, dalam waktu singkat, segalanya beres.

Hingga sekarang belum ada klarifikasi yang sah dari PSSI soal siapa yang bertanggung jawab. Kenapa? Karena dalam reorganisasi belum lama ini telah dibentuk Badan Liga Indonesia (BLI). Badan baru inilah yang membawahi segala kegiatan kompetisi sepakbola negeri ini.

Memang serba tidak mengenakkan, sebab belum ada pembagian tugas yang jelas, tiba-tiba kasus Arema-Persipura merebak. BLI sibuk dan hanyut mengurusi kompetisi, akibatnya alpa mengurusi hal-hal yang sebenarnya tugas rutin. Kasus ini menunjukkan bahwa memang pengurus PSSI atau BLI sama sekali jauh dari pemahaman First Thing First tadi.

Pengurus klub Persipura, terutama Arema dan para pendukungnya, meradang. Rasa kecewa Arema lebih berlipat ganda. Pengelola klub jauh-jauh hari telah melakukan persiapan secara fisik dengan merenovasi stadion. Benny Dollo sebagai pelatih Arema saat meraih gelar Copa Dji Sam Soe tetap di posisinya. Ia pun ngotot mempertahankan skuad yang tidak banyak melakukan perubahan seperti klub lain.

Harapan tinggal impian kosong. Kesempatan menjajal juara Korea, Jepang, atau klub-klub dari Timur Tengah menguap karena kecerobohan administratif PSSI. Entah kapan lagi kesempatan emas tersia-siakan ini terulang. Jika klub melakukan pelanggaran, PSSI yang memiliki pentung besi cepat menjatuhkan sanksi. Bisa dengan denda atau bertanding tanpa penonton. Nah, sekarang nyata-nyata PSSI salah, lantas hukuman apa yang pantas diberikan kepada pengurus? Tuntutan atau perdebatan dari Arema dan Persipura tak akan efektif. Mungkin saja idiom yang mengatakan king can do not wrong akan berlaku. Karena itu diharapkan pengurus sadar dan mau membuka diri.

Walau bukan klarifikasi resmi, ada baiknya mendengar suara hati Nirwan Bakrie. Orang nomor satu di BLI dan Badan Tim Nasional PSSI ini secara pribadi mengaku ada kesalahan dan keteledoran. “Agar polemik tidak berlarut dan berkarat, dalam waktu dekat BLI akan berdialog dengan Arema dan Persipura. Kita cari jalan ke dalam dan ke luar,” janji Nirwan, yang ketika dikontak masih berada di New York.

Seperti apa wujud pertemuan dan resolusi yang akan dihasilkan memang tak mungkin mengubah keputusan AFC. Namun, Nirwan terpanggil turut bertanggung jawab dan ingin bicara langsung dengan yang merasa dirugikan. Cuma, Nirwan tetap merasa ada sesuatu yang ganjil dalam urusan administrasi. “Bukan cuci tangan, tapi sebenarnya BLI tidak punya jalur korespondensi dengan AFC. Hanya PSSI sebagai federasi yang diakui dan sah sebagai mitra AFC,” ujarnya dari seberang benua.

Tumbang sebelum berlaga menimpa Arema dan Persipura. Memang, kalau pun jadi ambil bagian di Liga Champion Asia, mungkin hasilnya tidak akan lebih baik dari pendahulunya. Musibah ini boleh jadi puncak dari kegamangan pembinaan olahraga Indonesia secara keseluruhan. PSSI sendiri ibarat menara tua yang terkungkung di puncak gunung, pengap dan gelap. Sang tuan rumah pun tak bisa beranjak dari tempatnya karena terbelenggu di balik jeruji besi.

Agum Gumelar tatkala memimpin PSSI pernah mengibarkan slogan Menuju Pentas Dunia. Tokoh penerus, Nurdin Halid, seide dan sepaham. Sayangnya semua ini hanyalah wacana. Derap langkah menapak ke atap dunia pupus. Nurdin pun terjerat kasus korupsi. Sayang. Untunglah para produsen rokok kretek made in local tengah mencari lahan promosi efektif. Dua kebutuhan saling bertautan, jadilah kompetisi Liga Djarum Indonesia dan Copa Dji Sam Soe tetap ajeg.

Apa boleh buat. Tatkala kedewasaan dan kesadaran para pelakon belum juga tercipta secara alami, masih banyak pertandingan diwarnai baku sikut dan penggunaan kata-kata sampah. Alhasil, prestasi Indonesia di lingkup Asia Tenggara tak juga bergerak maju. Di sisi lain, para pengurus PSSI belum juga bersikap profesional yang cedas dan lugas.

Sejarahkah yang kita persalahkan karena penjajah Belanda tak meninggalkan pola pembinaan olahraga secara benar? Atau para pengurus olahraga kita yang sekarang tapi lebih memiliki watak penjajah melebihi kompeni?

(BARON (Pecinta Sepakbola Indonesia))

8 komentar untuk "Topeng Kontroversi PSSI"

  • the jack mania di madiun pada 01 Januari 1970 00:00:00
    buat pemain the jack mania,jujur aku sangat kecewa kamu kalah dengan semarang.tapi semangat tetep terus yaa..biar ngilangin jenuh nonton empat mata aza biar dihibur ama tukul gitu deh. bravo persija**winner for you**
  • THEJACKMANIA di MADIUN pada 01 Januari 1970 00:00:00
    JUJUR AZA WALAUPUN GUA ANAK MADIUN TAPI GUA SANGAT SUKA BANGET AMA PERSIJA NDAK TAU AZA DARI DULU LHO.BUAT PERSIJA MOGA-MOGA AJA KAMU BACA YAA.TERUS SEMANGAT.KALIAN KAN PENUH DENGAN PEMIN BINTANG. YAA TOO**BUAT BAMBANG,ALIYUDIN,SI GANTENG HAMKA "N ROCHA C
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    memekelubau
  • nmmmm di pada 01 Januari 1970 00:00:00
  • kaput di bandung pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Ga akan ada habisnya inkonsistensi dari pssi.entah kapan sepakbola kita bisa maju.janji taun depan bikin superliga?bualan apalagi yang ditunjukkan pengurus???
  • nafi di bandar kidul kediri pada 01 Januari 1970 00:00:00
    pssi lihat dong pemain2 persik yg oke seperti harianto/suroso .sekali kali di panggil timnas dong.and liat pemain2 yg main di belanda sprti irvan bardim di utretch.lekas di ambil belanda.oke ....klau sudah dipanggil kapan mainnya
  • JARWO di INDONESIA pada 01 Januari 1970 00:00:00
    klo menurut gw,PSSI coba-coba aja dah lihat-lihat anak-anak kampung main bola siapa tahu nemu anak berbakat main bola
  • juli sutowo di korea pada 01 Januari 1970 00:00:00
    bubarkan saja pssi.revolusi dan ganti organisasi baru menjadi IFA (indonesia football asosiasi) singkirkan orang-orang lama.pssi cuma tua umurnya soal prestasi dan kelakuannya tetap kanak-kanak.majulah sepakbola indonesiaku.
1

Leave a Reply