Domain For Sale! You can buy this domain

Liga Indonesia

Persibom Kalah Siapa Yang Salah?

Belum hilang dari ingatan ketika Tim Fajar Bulawan - nama lain Persibom pada tahun 2004 lalu berhasil mesuk ke putaran final Divisi I Liga Indonesia dan hasil yang sangat membanggakan bagi pencita sepak Bola di Bolmong kususnya dan Sulut umumnya. Ketika Persibom mampu lolos ke Divisi Utama Liga Indonesia dan keberhasilan ini tentunya dapat mengangkat panji - panji Persibom serta mengembalikan citra persepakbolaan di Bumi Nyiur Malambai setelah ditinggal Persama Manado ke Divisi I.

Spontan saja, pada waktu itu semua mata tertuju di Gelora Ambang -yang notabene sebagai markas Persibom. Bahkan kiblat sepak bola Sulut yang dulunya di stadion Klabat Manado, seolah beralih ke Stadion Gelora Ambang, dan seketika itu juga, menjadi bahan perbincangan pencinta Bola di Bumi Nyiur Melambai. Tak hanya itu, Gubernur Sulut Drs. A.J. Sondakh kerena kegembiraannya atas hasil yang diraih tim ini menyempatkan diri untuk menjemput Persibom di Bandara Samratulangi Manado lalu.

Selain Gubernur, para anggota Dewan Propinsi dengan gembiramya menyambut keberhasilan Persibom, bahkan Ketua Dewan Propinsi Drs. Syahrial Damopolii secara khusus berjanji akan mengalokasikan dana APBD Propinsi sebesar Rp. 2 milyar untuk pembinaan Persibom karena Persibom bukan hanya milik orang Bolmong saja tetapi adalah milik seluruh masyarakat Sulawesi Utara.

Kiblat sepak Bola Sulut yang semulah diperkirakan hanya di Stadion Gelora Ambang Kotamobagu tiba - tiba terbagi ke Stadion Maesa Tondano setelah PSSI menetapkan sistem dua wilayah barat dan timur. Sehingga Persmin Minahasa yang semula sudah putus harapan seperti mendapatkan berkah dari pembagian wilayah itu.Tak pelak dengan peraturan tersebut, tim yang bejuluk Manguni Makasiouw mendapatkan kesempatan tempat gratis untuk berlaga di Divisi Utama.

Dengan mendapatkan satu tempat free, tentunya langsung ditanggapi miring bagi oleh kubu Persibom. Pasalnya, tim yang lolos Divisi Utama seharusnya bisa berjuang dan memperlihatkan hasil yang baik tentunya, seperti yang dilakukan oleh Persibom. Dengan perjuangan mati - matian hingga bisa sampai di Stadion Gelora Bung Karno. Tentunya Tim kebanggan warga lumbung beras ini, seharusnya memiliki kualitas lebih dibandingkan dengan Persmin Minahasa yang lolos ke Divisi Utama, yang terkesan ditolong dengan peraturan dua wilayah oleh PSSI itu.

Diawal kompetisi Divisi Utama 2005 Persibom masih menunjukan kualitasnya, meski semapat kalah tipis 1-0 dari Persmin itu. Namun para Laskar Bogani mencoba untuk bangkit kembali, tapi kebangkitan Persibom tak maksimal seperti yang diharapkan olah masyarakat sepak bola Bolmong. Dan itu bisa dilihat dari hasil akhir kompetisi, Persibom terancam masuk ke jurang degradasi. Untung saja, pada akhir musim masih menyisahkan laga yang dipertemukan dengan tim tetangganya Persmin, sehingga lubang degradasi bisa dilalui dengan mulus. Karena pada laga tandang Persibom di Stadion Maesa Tondano itu, tim Fajar Bulawan mampu mendulang poin penuh, plus enam poin laga kandang saat lawan Persik Kediri dan Persela Lamongan berhasil dimaksimalkan. 

Tapi, hal itu berimbas pada pelatih terlebih dulu Elly Idris yang diputuskan kontrak oleh pihak managemen. Dan mendatangkan mantan pelatih Timnas U-17 Iwan Satiawan, serta mendatangkan pemain - pemain yang berkualitas menurut versi manajemen Persibom. Kabar bergabungnya sosok Iwan dan pemain berkualitas, tentunya disambut
hangat oleh para Bom Mania - julukan pendukung fanatik Persibom.

Karena dengan begitu harapan untuk melihat prestasi Persibom bisa terangkat, bisa kembali terwujud. Tapi buktinya, saat laga kandang perdana tim Persibom lawan Persiter Ternate harus kehilangan 2 poin, karena tim asuhan Gusnul Yakin itu berhasil menahan imbang meski telah tertinggal lebih dulu dengan dua gol Hombre.

Dan kalau menurut cerita para tetua dahulu adalah pertanda buruk. Dan itu bisa dilihat pada hasil lawan Persiwa Wamena, tim berjuluk Fajar Bulawan kembali ditahan imbang 2 - 2 oleh Persiwa Wamena di depan penduklung setia Persibom. Padahal kedua tim yang berhasil menahan imbang itu adalah tim debutan alias pendatang baru di Divisi Utama. Secara perlahan tapi pasti, ketika berlaga dikandang Delras Sidoarjo, Cristrian "homre" Armendaris cs mampu mencuiri satu biji poin. Meski lawan PSS Sleman kalah, tapi dengan berhasilnya tur di Jawa itu dapat dilihat kalau performa tim Persibom mulai beranjak naik.

Tak konsistenya pemain dalam setiap laga yang dilakoni membuat tim Fajar Bulawan pada tur di Kalimantan baru - baru ini, kembali menelan pil pahit. Pasalnya, dua kekalahan beruntun dari Persiba dengan skor 3-1 dan hal serupa juga ketika lawan PKT Bontang. Walaupun dengan gigih mampu mengejar ketertinggalan tapi akhirnya kalah dengan skor 4-2. Membuat misi mencuri poin di Kalimantan lepas dan tak satu poin pun berhasil dibawah untuk dibanggakan.

Kekalahan demi - kekalahan dialami oleh Persibom dikompetisi musim ini, sehingga sangat wajar kalau timbulah pertanyaan "Persibom kalah siapa yang salah?", apakah manajemen, pelatih, pemain atau mungkin... pendukungnya yang lagi sibuk memikirkan Pilkada, sehingga lupa tidak mengirimkan do'a demi kemenangan Persibom Bolaang Mongondow.
(Deydi Mokoginta (Suporter Persibom))

0 komentar untuk "Persibom Kalah Siapa Yang Salah?"

Leave a Reply