Opini Bola
25 April 2006 21:04:00 feri istanto -Kickoff Soccer Studies Media- | Opini Bola | dibaca 2032 kali
76 Tahun PSSI, Dimana Keberpihakanmu?
“Antara djam 9 malam, pertemuan conferentie laloe diboeka oleh voorzitter comite toean Daslam Hadiwasito… Hal mana ada satoe tanda bahoea soedah sampai temponja dalam kalangan Indonesier diadakan matjam itoe badan persatoean”. (surat kabar “Bintang Mataram” Yogyakarta ; 1930)
Pertengahan April, 76 tahun yang lalu, tujuh bond (kumpulan klub amatir) sepakbola hadir di Yogyakarta untuk bertanding dalam sebuah kejuaraan di Alun-alun utara Yogyakarta. Bukan pertandingan di lapangan berpagar gedheg (anyaman bambu) tersebut yang kemudian dikenang oleh sejarah, namun pertemuan ketujuh pengurus klublah yang kemudian dicatat telah melahirkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), sebuah organisasi paling “hiruk-pikuk” dalam kehidupan masyarakat pecinta olahraga di Indonesia.
Kelahiran PSSI tak bisa dilepaskan dari peran Meneer Daslam Hadiwasito, seorang guru HIS Netral Yogyakarta dan pendiri bond Eka Kapti Mataram (EKRAM) cikal bakal PSIM Yogyakarta. Bagi Daslam yang tidak banyak disebutkan namanya dalam literatur sejarah berdirinya PSSI, sepakbola adalah alat perjuangan bangsa. Bangsa Indonesia seharusnya menggunakan sepakbola yang mulai memasyarakat untuk menggalang kekuatan, menyadarkan kecintaan pada rasa kebangsaan, dan menunjukkan eksistensinya pada bangsa Belanda. Seruan tersebut disampaikan kepada Ir. Soeratin Sastrosoegondo, seorang pegawai swasta pada sebuah perusahaan Belanda yang kemudian mengajak 7 pengurus bond untuk bertemu di Societeit Hadiprojo Yogyakarta pada Sabtu, 19 April 1930.
Ketujuh bonden yakni VIJ Jakarta (sekarang Persija Jakarta), BIVB Bandung (Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), SIVB (Persebaya Surabaya), VVB (Persis Solo), dan PSIM (Yogyakarta) kemudian sepakat mendirikan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan Ir. Soeratin Sosrosoegondo sebagai Ketua, Amir Notopratomo sebagai Penulis/Sekretaris, dan H.Amir Noto sebagai keuangan/bendahara. Daslam Hadiwasito yang menjadi pemimpin sidang menolak sebagai pengurus karena ditakutkan akan berpengaruh pada pekerjaannya sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda.
Saat itu dalam dunia sepakbola Indonesia terdapat dua perkumpulan klub, bond pribumi berhadapan dengan bond sepak bola yang dimotori oleh orang-orang Belanda dan diakui oleh pemerintah Hindia Belanda. Klub seperti BIVB Bandung bersaing dengan Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO), sementara SIVB Surabaya bersaing dengan Sorabaiasche Voebal Bond (SVB). Klub-klub “setengah belanda” tersebut selalu mengejek klub-klub pribumi sebagai klub kelas dua. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan klub-klub pribumi dilakukan di lapangan-lapangan kampung pinggiran kota, dan bermain tanpa alas kaki, sedangkan bond orang-orang Belanda bertanding di stadion atau lapangan tengah kota. Klub-klub yang dimotori tim Belanda pun membentuk semacam PSSI yang disebut NIVU (Nederland Indische Voetbal Bonden).
Pendiri PSSI sadar bahwa mereka membutuhkan kompetisi untuk meningkatkan kemampuan tim-tim anggotanya, sehingga setahun kemudian kompetisi mulai digelar. Eksistensi PSSI dan bond-bond anggotanya harus berhadapan dengan NIVU.. PSSI mulai diakui eksistensinya setelah mereka berhasil menunjukkan prestasi mengesankan. Diantaranya dengan keberhasilan tim PSSI pada tahun 1937 menahan imbang tim NANHUA, tim asal Hongkong yang tengah mengadakan tour ujicoba ke Jawa, dengan skor 2-2. Padahal beberapa tim anggota NIVU kalah dari Nanhua di beberapa kota. Bond anggota PSSI pun tak mau kalah, PSIM misalnya sukses mengalahkan VBDO (Voetbal Bond Djogdjeen Omstreken-Bond asal Jogja anggota NIVU) dengan skor 7-2 di stadion Bijleveld (Kridosono), dan skor 4-1 saat bertanding di Alun-alun utara Yogyakarta. Keberhasilan tersebut tak bisa dipungkiri merupakan keberhasilan kaum pribumi menembus hegemoni bangsa Belanda waktu itu.
Perjuangan Pemain Pribumi Masa Kini
Tujuh puluh enam tahun kemudian, pemain-pemain pribumi kembali harus berjuang menunjukkan eksistensinya dalam kancah sepakbola nasional. Mereka harus bersaing dengan ratusan pemain asing yang diijinkan tampil di pentas sepakbola nasional. Awalnya, keberadaan pemain asing di kompetisi sepakbola nasional ditujukan sebagai sarana transfer keahlian, dan sparing partner bagi pemain pribumi. Diharapkan pemain pribumi dapat mencontoh kemampuan teknik, fisik, dan mental pemain asing. Harapan selanjutnya, pemain pribumi dapat mengimbangi kemampuan pemain asing, sehingga setara atau bahkan mampu mengalahkannya. Selain itu, perkembangan industrialisasi sepakbola membutuhkan keberadaan pemain asing sebagai daya tarik dan upaya peningkatan mutu tontonan sepakbola.
Akan tetapi dalam perkembangannya, keberadaan pemain asing justru kontraproduktif bagi perkembangan pemain pribumi. Mutu pemain asing yang terkadang buruk membuat harapan transfer kemampuan menjadi hilang. Sialnya lagi, PSSI yang dulu dibangun atas jasa prestasi pemain-pemain pribumi kini tidak lagi berpihak pada pemain pribumi. Hal ini ditunjukkan dengan diijinkannya setiap klub memainkan lima pemain asing atau hampir separo dari jumlah anggota tim. Hal ini berakibat pada semakin minimnya jatah bermain pemain pribumi. Dalam setiap tim liga misalnya, hampir dua pemain penyerang diisi oleh pemain asing, sehingga praktis kini tidak ada lagi penyerang pribumi yang terasah kemampuannya. Pemain pribumi kini hanya menjadi penghuni bangku cadangan, dan berkeringat saat latihan.
Alasan PSSI dengan kebijakan lima pemain asing adalah karena minimnya stok pemain pribumi yang berkualitas. Sebuah alasan yang menunjukkan betapa otoritas tertinggi sepakbola nasional tersebut mengakui kegagalannya dalam menciptakan pemain pribumi berkualitas, dan kemudian memperparah keadaan dengan kebijakan yang salah kaprah. Keberadaan pemain asing mungkin memang sedikit meningkatkan mutu tontonan sepakbola nasional, namun ternyata banyak hal yang harus dikorbankan. PSSI secara sosio historis telah melupakan jasa pemain pribumi yang dulu menjadi ujung tombak bagi PSSI untuk menunjukkan eksistensinya.
Jika tidak ada perubahan kebijakan dari PSSI, jangan heran jika prestasi sepakbola Indonesia akan semakin terpuruk.
(feri istanto -Kickoff Soccer Studies Media-)
Pertengahan April, 76 tahun yang lalu, tujuh bond (kumpulan klub amatir) sepakbola hadir di Yogyakarta untuk bertanding dalam sebuah kejuaraan di Alun-alun utara Yogyakarta. Bukan pertandingan di lapangan berpagar gedheg (anyaman bambu) tersebut yang kemudian dikenang oleh sejarah, namun pertemuan ketujuh pengurus klublah yang kemudian dicatat telah melahirkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), sebuah organisasi paling “hiruk-pikuk” dalam kehidupan masyarakat pecinta olahraga di Indonesia.
Kelahiran PSSI tak bisa dilepaskan dari peran Meneer Daslam Hadiwasito, seorang guru HIS Netral Yogyakarta dan pendiri bond Eka Kapti Mataram (EKRAM) cikal bakal PSIM Yogyakarta. Bagi Daslam yang tidak banyak disebutkan namanya dalam literatur sejarah berdirinya PSSI, sepakbola adalah alat perjuangan bangsa. Bangsa Indonesia seharusnya menggunakan sepakbola yang mulai memasyarakat untuk menggalang kekuatan, menyadarkan kecintaan pada rasa kebangsaan, dan menunjukkan eksistensinya pada bangsa Belanda. Seruan tersebut disampaikan kepada Ir. Soeratin Sastrosoegondo, seorang pegawai swasta pada sebuah perusahaan Belanda yang kemudian mengajak 7 pengurus bond untuk bertemu di Societeit Hadiprojo Yogyakarta pada Sabtu, 19 April 1930.
Ketujuh bonden yakni VIJ Jakarta (sekarang Persija Jakarta), BIVB Bandung (Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), SIVB (Persebaya Surabaya), VVB (Persis Solo), dan PSIM (Yogyakarta) kemudian sepakat mendirikan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan Ir. Soeratin Sosrosoegondo sebagai Ketua, Amir Notopratomo sebagai Penulis/Sekretaris, dan H.Amir Noto sebagai keuangan/bendahara. Daslam Hadiwasito yang menjadi pemimpin sidang menolak sebagai pengurus karena ditakutkan akan berpengaruh pada pekerjaannya sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda.
Saat itu dalam dunia sepakbola Indonesia terdapat dua perkumpulan klub, bond pribumi berhadapan dengan bond sepak bola yang dimotori oleh orang-orang Belanda dan diakui oleh pemerintah Hindia Belanda. Klub seperti BIVB Bandung bersaing dengan Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO), sementara SIVB Surabaya bersaing dengan Sorabaiasche Voebal Bond (SVB). Klub-klub “setengah belanda” tersebut selalu mengejek klub-klub pribumi sebagai klub kelas dua. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan klub-klub pribumi dilakukan di lapangan-lapangan kampung pinggiran kota, dan bermain tanpa alas kaki, sedangkan bond orang-orang Belanda bertanding di stadion atau lapangan tengah kota. Klub-klub yang dimotori tim Belanda pun membentuk semacam PSSI yang disebut NIVU (Nederland Indische Voetbal Bonden).
Pendiri PSSI sadar bahwa mereka membutuhkan kompetisi untuk meningkatkan kemampuan tim-tim anggotanya, sehingga setahun kemudian kompetisi mulai digelar. Eksistensi PSSI dan bond-bond anggotanya harus berhadapan dengan NIVU.. PSSI mulai diakui eksistensinya setelah mereka berhasil menunjukkan prestasi mengesankan. Diantaranya dengan keberhasilan tim PSSI pada tahun 1937 menahan imbang tim NANHUA, tim asal Hongkong yang tengah mengadakan tour ujicoba ke Jawa, dengan skor 2-2. Padahal beberapa tim anggota NIVU kalah dari Nanhua di beberapa kota. Bond anggota PSSI pun tak mau kalah, PSIM misalnya sukses mengalahkan VBDO (Voetbal Bond Djogdjeen Omstreken-Bond asal Jogja anggota NIVU) dengan skor 7-2 di stadion Bijleveld (Kridosono), dan skor 4-1 saat bertanding di Alun-alun utara Yogyakarta. Keberhasilan tersebut tak bisa dipungkiri merupakan keberhasilan kaum pribumi menembus hegemoni bangsa Belanda waktu itu.
Perjuangan Pemain Pribumi Masa Kini
Tujuh puluh enam tahun kemudian, pemain-pemain pribumi kembali harus berjuang menunjukkan eksistensinya dalam kancah sepakbola nasional. Mereka harus bersaing dengan ratusan pemain asing yang diijinkan tampil di pentas sepakbola nasional. Awalnya, keberadaan pemain asing di kompetisi sepakbola nasional ditujukan sebagai sarana transfer keahlian, dan sparing partner bagi pemain pribumi. Diharapkan pemain pribumi dapat mencontoh kemampuan teknik, fisik, dan mental pemain asing. Harapan selanjutnya, pemain pribumi dapat mengimbangi kemampuan pemain asing, sehingga setara atau bahkan mampu mengalahkannya. Selain itu, perkembangan industrialisasi sepakbola membutuhkan keberadaan pemain asing sebagai daya tarik dan upaya peningkatan mutu tontonan sepakbola.
Akan tetapi dalam perkembangannya, keberadaan pemain asing justru kontraproduktif bagi perkembangan pemain pribumi. Mutu pemain asing yang terkadang buruk membuat harapan transfer kemampuan menjadi hilang. Sialnya lagi, PSSI yang dulu dibangun atas jasa prestasi pemain-pemain pribumi kini tidak lagi berpihak pada pemain pribumi. Hal ini ditunjukkan dengan diijinkannya setiap klub memainkan lima pemain asing atau hampir separo dari jumlah anggota tim. Hal ini berakibat pada semakin minimnya jatah bermain pemain pribumi. Dalam setiap tim liga misalnya, hampir dua pemain penyerang diisi oleh pemain asing, sehingga praktis kini tidak ada lagi penyerang pribumi yang terasah kemampuannya. Pemain pribumi kini hanya menjadi penghuni bangku cadangan, dan berkeringat saat latihan.
Alasan PSSI dengan kebijakan lima pemain asing adalah karena minimnya stok pemain pribumi yang berkualitas. Sebuah alasan yang menunjukkan betapa otoritas tertinggi sepakbola nasional tersebut mengakui kegagalannya dalam menciptakan pemain pribumi berkualitas, dan kemudian memperparah keadaan dengan kebijakan yang salah kaprah. Keberadaan pemain asing mungkin memang sedikit meningkatkan mutu tontonan sepakbola nasional, namun ternyata banyak hal yang harus dikorbankan. PSSI secara sosio historis telah melupakan jasa pemain pribumi yang dulu menjadi ujung tombak bagi PSSI untuk menunjukkan eksistensinya.
Jika tidak ada perubahan kebijakan dari PSSI, jangan heran jika prestasi sepakbola Indonesia akan semakin terpuruk.
(feri istanto -Kickoff Soccer Studies Media-)
Artikel lain
8 komentar untuk "76 Tahun PSSI, Dimana Keberpihakanmu?"
-
blh sy minta alamt e-mail PSSI?????tks
-
saya sangat terkesan sekali pada 77 tahun yg lalu..dimana patrioisme para pemain sangat bagus, dan beda disaat sekarang..misalkan dari 11 pemain hanya 5 yg punya jiwa patrioisme yg tinggi tidak bakalan jadi juga, memang harus ada sebuah psikologi terhadap
-
bukan kritik sama PSSI, tapi I kritik sama Bambang Nurdiansyah! tacktik buat Pssi u-23 itu salah besar dengan formasi 4-3-2-1, formasi tersebut hanya bisa dilakukan oleh tim yang mempunyai jam terbang banyak dan profesiaonal. kalao untuk pssi u-23 formasi
-
buat seluruh pengurus pssi ataupun klib ato siapa aja yang bergelut didunia sepak bola indonesia...dari pada ngabisin duit buat jalan2 ato lain,mendingan jalan2 ke pelosok daerah-daerah indonesia,siapa tahu bisa menemukan the next maradona
-
Percuma saja nulis panjang leber soal PSSI, toh mereka tidak baca......mata ati mereka sudah tertutup, gelap gulita.....kritikan macam apapun gak mempan dan gak mampu bangunin PSSI yang memang budeg, bisu dan tuli tapi ndableg.......
-
kamu sangat bodoh tidak pandai main bola
-
bukan kritik sama PSSI, tapi hanya ingin ekspose PSIM yogya, payah... tdk bermental NASIONAL
-
,,,,,,,,.............................................................................................PSSI.....................................anCur banGet...........................maTi ajAH!!
1
Leave a Reply
Hasil Pertandingan
Indonesia Super League
| PERSELA | PERSIJAP | |
| SEMEN PADANG | PELITA JAYA | |
| DELTRAS | PERSIJAP | |
| SRIWIJAYA | PERSIB | |
| PSPS | AREMA |
Detail score pertandingan
Klasemen Liga
Indonesia Super League 2010
| # | Klub | Mn | Mg | S | K | SG | P |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Persipura | 7 | 6 | 1 | 0 | 24 - 3 | 19 |
| 2 | Semen Padang | 8 | 5 | 2 | 1 | 13 - 5 | 17 |
| 3 | Persija | 8 | 5 | 2 | 1 | 12 - 4 | 17 |
| 4 | Arema Indonesia | 8 | 4 | 2 | 2 | 14 - 6 | 14 |
| 5 | PSPS | 7 | 4 | 1 | 2 | 9 - 7 | 13 |
| 6 | Persiba | 10 | 3 | 3 | 4 | 14 - 14 | 12 |
| 7 | Persijap | 6 | 3 | 1 | 2 | 8 - 9 | 10 |
| 8 | Persela | 10 | 2 | 4 | 4 | 6 - 11 | 10 |
Detail klasemen
Divisi Utama Wilayah 3
| # | Klub | Mn | Mg | S | K | SG | P |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Persidafon | 6 | 5 | 0 | 1 | 15 - 3 | 15 |
| 2 | Persigo | 7 | 4 | 1 | 2 | 9 - 7 | 13 |
| 3 | Persiba | 5 | 3 | 1 | 1 | 7 - 2 | 10 |
| 4 | PS Barito | 8 | 3 | 1 | 4 | 8 - 6 | 10 |
| 5 | Persebaya | 6 | 3 | 0 | 3 | 9 - 7 | 9 |
| 6 | PSBI | 5 | 3 | 0 | 2 | 4 - 3 | 9 |
| 7 | Persekam | 5 | 3 | 0 | 2 | 6 - 7 | 9 |
| 8 | PSIR | 5 | 2 | 1 | 2 | 4 - 4 | 7 |
Detail klasemen
Divisi Utama Wilayah 2
| # | Klub | Mn | Mg | S | K | SG | P |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | PSIM | 6 | 4 | 1 | 1 | 8 - 2 | 13 |
| 2 | Mitra Kukar | 5 | 4 | 0 | 1 | 9 - 4 | 12 |
| 3 | Persik | 6 | 4 | 0 | 2 | 9 - 4 | 12 |
| 4 | Perseman | 6 | 3 | 2 | 1 | 5 - 1 | 11 |
| 5 | PSCS | 7 | 3 | 2 | 2 | 6 - 3 | 11 |
| 6 | Persemalra | 8 | 3 | 0 | 5 | 6 - 7 | 9 |
| 7 | Persikab | 7 | 2 | 2 | 3 | 5 - 7 | 8 |
| 8 | Persikota | 5 | 2 | 1 | 2 | 3 - 2 | 7 |
Detail klasemen
Divisi Utama Wilayah 1
| # | Klub | Mn | Mg | S | K | SG | P |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Persiraja | 5 | 5 | 0 | 0 | 12 - 4 | 15 |
| 2 | PSLS | 7 | 3 | 3 | 1 | 6 - 6 | 12 |
| 3 | Persita | 5 | 3 | 2 | 0 | 10 - 1 | 11 |
| 4 | Persipasi | 5 | 3 | 1 | 1 | 8 - 2 | 10 |
| 5 | PSAP | 5 | 3 | 1 | 1 | 8 - 3 | 10 |
| 6 | Persitara | 6 | 3 | 1 | 2 | 10 - 8 | 10 |
| 7 | PSSB | 7 | 1 | 4 | 2 | 5 - 6 | 7 |
| 8 | Persih | 6 | 2 | 1 | 3 | 6 - 9 | 7 |
Detail klasemen
Jadwal Pertandingan
Indonesia Super League
| PERSELA | PERSIJAP | |
| SEMEN PADANG | PELITA JAYA | |
| DELTRAS | PERSIJAP | |
| SRIWIJAYA | PERSIB | |
| PSPS | AREMA | |
Detail jadwal
Polling
Liga Primer Indonesia sudah hadir dalam tiga prtai awal. Menurut Anda, pantaskah liga ini disebut kompetisi?
Pantas
Tidak Pantas
Tidak Tahu
Biasa Saja
Show result

