Domain For Sale! You can buy this domain

Opini Bola

Suporter Piala Dunia dengan Rasa Indonesia

Riuhnya hingar bingar suasana Piala Dunia 2006 di Jerman tak hanya menyangkut permainan tim-tim peserta di lapangan hijau. Meriahnya suasana atmosfer Piala Dunia tak mungkin lepas dari dukungan fanatik dengan semangat militansinya supporter dari tribun stadion.

Keberadaan supporter atau pendukung merupakan salah satu pilar penting yang wajib ada dalam suatu pertandingan sepakbola sekelas “Piala Dunia” agar suasana tidak terasa hambar dan tanpa makna. Kehadiran supporter dalam mendukung negaranya masing-masing sangat terasa efeknya dalam mengobarkan semangat bertanding dalam diri para pemain. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para supporter mungkin sama efeknya dengan energi yang dimunculkan dari doping dalam memacu semangat, yaitu para pemain semakin bernafsu untuk mempersembahkan kemenangan untuk memuaskan para suporternya.

Kreatifitas supporter dalam Piala Dunia biasanya dilengkapi dengan berbagai atribut dan perlengkapan. Mulai dari aneka topi yang berwarna warni sesuai warna bendera Negara, syal, bendera, bertelanjang dada (untuk supporter pria) dengan tubuh dan wajah yang diolesi cat atau membawa terompet serta drum sebagai genderang untuk tetabuhan.

Meskipun Timas Indonesia sampai dengan saat ini belum mampu berlaga dalam event sekelas World Cup, tapi gema Piala Dunia juga bergetar keras di Indonesia dengan hadirnya siaran langsung yang disuguhkan oleh SCTV dan iklan-iklan yang bertemakan Piala Dunia didalam setiap promonya di media. Lucu dan unik bila kita bicarakan disini adalah, berangkatnya para “supporter” Indonesia ke Jerman dalam mendukung berbagai Negara.

Kenapa berbagai Negara? Ya, karena dalam setiap kelompok pelancong “supporter” yang dikoordinir dengan jasa tour travel tersebut masing-masing berbeda dalam mendukung tim Negara yang mereka jagokan. Hebatnya supporter pelancong tersebut sangat royal dalam membeli pernak-pernik yang berlogo official world cup 2006 dengan warna kebanggaan tim Negara yang mereka idolakan.  Memang “supporter” pelancong dari Indonesia yang berangkat ke Jerman bukanlah supporter sembarangan, tetapi supporter khusus sehingga pantas ditulis dengan tanda kutip.

Rombongan “supporter” dari Indonesia biasanya terdiri dari level pejabat, pengusaha kelas kakap dan para eksekutif muda yang sangat-sangat mungkin mereka tidak peduli dengan kancah persepakbolaan di tanah air. Ya! Mereka pasti lebih hafal nama-nama pemain dari berbagai Negara bila dibandingkan bila harus mengingat nama-nama pemain timnas sepakbola sekelas Boaz Salossa, Bambang Pamungkas dkk. Mereka bahkan lebih hafal hobi, gossip-gosip kehidupan pribadi, merek mobil atau bahkan nomor sepatu dari pemain-pemain yang mereka idolakan dari kawasan eropa maupun amerika latin.

Sangat ironis memang kalau melihat fenomena diatas, apa yang salah dari Liga Indonesia kita? Kenapa tidak bisa memunculkan pemain-pemain yang hebat sekelas Piala Dunia? Yang gagah dan gantengnya tak kalah bila dibandingkan model-model di catwalk? Walah-walah gitu aja kok pusing..!! nggak harus pusing lah!? Jawabannya adalah gimana mau hebat kalau pimpinan organisasi tertinggi (PSSI) adalah seorang terdakwa koruptor yang telah divonis hukuman penjara selama 2,5 tahun oleh Lembaga Tertinggi hukum kita yaitu MA. Organisasi tertinggi sepakbola nasional yang carut marut dengan administrasi yang berantakan, kolusi dan penuh dengan keputusan yang kontroversial.

Wah-wah nggak ada habisnya kalau kita mengkritisi organisasi tertinggi dan terhebat sepakbola kita! Yang pasti mungkin supporter piala dunia di Indonesia tak harus terbang ke Jerman mengikuti kaum borjuis “supporter” dari Indonesia , tapi cukup dengan melepas sesaat kaos klub kebanggaan kita dengan memakai kaos timnas Negara yang kita idolakan. Suporter Jerman, Brasil, Italia, Belanda, Inggris dengan “rasa” Indonesia akan ramai di seluruh pelosok Indonesia. Café-café kelas tinggi sampai dengan warung kopi akan diramaikan oleh sorak-sorai suara Suporter Piala Dunia dengan rasa Indonesia dengan berbagai dialek daerah dan bau parfum kaum borjuis sampai bau keringat kelas sandal jepit. Bahkan yang uniknya lagi cafe “PASOEPATI” yang rutin mengadakan nonton bareng di Kota Solo selalu diramaikan dengan suara tetabuhan genderang drum, umpatan dan nyanyian para supporter Pasoepati yang telah berubah wujud dengan berbagai warna kaos Negara yang berlaga di Piala Dunia.

So, kita tinggal ucapkan “Welcome FIFA World Cup 2006 in Germany”, kami supporter dengan rasa Indonesia siap menyambut dan menikmatimu dengan berbagai cara yang unik dan fantastik. 
(phery)

14 komentar untuk "Suporter Piala Dunia dengan Rasa Indonesia"

  • badia di l pakam pada 01 Januari 1970 00:00:00
    maju trs pntg mundur buat smua tim
  • badia di l pakam pada 01 Januari 1970 00:00:00
    maju trs pntg mundur buat smua tim
  • MILAN di milan pada 01 Januari 1970 00:00:00
    ITALI EMANG JADI JUARANYA..TAPI KASIHAN DEH LU JUVENTUS DEGRADASI KE SERI C
  • fabio di italy pada 01 Januari 1970 00:00:00
    i think italy the champion
  • kuntet di mangkulangit pada 01 Januari 1970 00:00:00
    piala dunia penuh kejutan sayang indonesia cuma bisa nonton
  • momo di karawaci pada 01 Januari 1970 00:00:00
    bagus nih artikel, sayang kalau cuma ditampilkan disini aja
  • WISNU di GEDONG KUNING pada 01 Januari 1970 00:00:00
    SAYA DUKUNG TIM DARI ASIA SAJA
  • hitler di jeporo pada 01 Januari 1970 00:00:00
    hidup jerman !!!!!!!!!!!!!!1
  • ARYO di SLEMAN pada 01 Januari 1970 00:00:00
    LEPASKAN DULU KAOS KLUB DUKUNG TIMNAS KEBANGGAAN
  • sengkut di solo pada 01 Januari 1970 00:00:00
    saya pasoepati yang akan ganti kaos kuning buat dukung timnas BRASIL...!!!!!!!!!!!!
  • koko di bogor pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Setubuh!!!!!!!!!!! seperti biasa apik!!!!!
  • fitria di jogja pada 01 Januari 1970 00:00:00
    bagus artikel mas..
  • abdi bayu di surabaya pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Suporter Indonesia koyok Jancok^an?
  • sby_bonek di surabaya-nbontang pada 01 Januari 1970 00:00:00
    salut cak panji terus kritik sepak bola kita dengan kritikan membangun bagus artikelnya
1

Leave a Reply