Domain For Sale! You can buy this domain

Ligasiana

Stadion Petrokimia dan Jatidiri Tetap Tuan Rumah

Badan Liga Indonesia (BLI) telah memutuskan bahwa perhelatan babak delapan besar akan digelar di Stadion Jatidiri Semarang untuk Wilayah Barat dan Stadion Petrokimia Gresik untuk Wilayah Timur. Meski begitu, BLI masih akan melakukan peninjaun ulang pada 27-28 Mei nanti.

Peninjauan tampaknya dikhususkan kepada Jatidiri. Pasalnya, meskipun dianggap sukses dalam menggelar Perang Bintang pada jeda putaran pertama kompetisi Divisi Utama lalu, tetapi faktor lapangan yang keras menjadi pertimbangan. Kalau dalam penilaian BLI tidak memenuhi syarat, bisa saja dialihkan ke alternatif kedua yaitu di Stadion Manahan di Solo.

Menurut Manajer Kompetisi BLI Djoko Driyono, Stadion Manahan merupakan opsi kedua sebagai tuan rumah Babak Delapan Besar dari Wilayah Barat. Sedangkan untuk Wilayah Timur, yang terpilih adalah Stadion Petrokimia, Gresik yang menjadi kandang klub Divisi Satu, Gresik United.

Djoko juga menyatakan bahwa Delapan Besar dialokasikan digelar 19-24 Juli mendatang. Sedangkan partai puncak sendiri digelar 30 Juli. Hanya, bisa selama ini babak grand final selalu digelar di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan (kecuali Liga Indonesia VI di Stadion Klabat, Manado), musim ini bisa saja di tempat lain. Sebab, menurutnya pada akhir Juli nanti diperkirakan renovasi GBK belum selesai.

Terkait dengan tuan rumah untuk Wilayah Timur, BLI mennyatakan bahwa status Stadion Petrokimia, Gresik, tidak terusik. "Untuk di Gresik bahkan sudah mendapat izin dari pihak Petrokimia, jadi tidak ada masalah," tandas Djoko.
(phery)

11 komentar untuk "Stadion Petrokimia dan Jatidiri Tetap Tuan Rumah"

  • Bondan di Jakarta Pinggiran pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Kalo Stadion Jatidiri dipilih jadi tempat berlangsungnya babak 8 besar maka alamat salah besar PSSI dan BLI, coba dong tinjau ulang kelayakannya...!!
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Coba lihat kejadian stadion kanjuruhan yg lapangannya kebanjiran dan tidak memiliki penerangan, sebaiknya dijadikan pelajaran untuk mengambil keputusan nantinya. Masih banyak koq stadion yg lebih layak selain Jati Diri. Oke!!
  • Prihatin Sama BLI di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Kayak gak ada lapangan lain aja, justru lapangan2 yang memenuhi standar internasional gak dijadikan prioritas. Ni yg buat keputusan emang bego atau sengaja "dibego2in"..
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    yah lapangan Jatidiri semarang tanahnya keras jadi pertandingannya tidak enak untuk ditonton
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    DARI PADA JATI DIRI LEBIH BAIK MANAHAN SOLO. KANJURUHAN KANDANG AREMA JUGA BAGUS, TP SAYANG GAK ADA LAMPUNYA.
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    yg kasi komen d bawah ini pasti org bodoh, coz gak nyambung. TELMI GITU LOCH
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    di lapangan tuh buat maen sepakbola bukan buat MAKAN LAPANGAN !!! kok tahu kalo lapangannya keras? habis makan tanah jatidiri ya ??? Ngomong aja takut maen di Semarang !!!!
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Cari aza lapangan yg lain,(usul saya);seperti Stadion Sriwijaya Palembang atau Deltras Sidoarjo...!!!! Yg mempunyai fasilitas lapangan yg memadai,seperti rumput dll. JANGAN SEPERTI STADION JATIDIRI!!!!!!!!
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    gIMANA SIH...Bapak2 BLI,lapangan Jatidiri itu keras da setiap pemain membawa bola,bolanya selalu mantul2..Jadi dapat mengganggu kenyamanan bermain. Ingat!!!Ini babak 8 Besar!!!
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    JATI DIRI SAYA RASA MEMANG KURANG BAGUS UTK BABAK 8 BASAR
  • di pada 01 Januari 1970 00:00:00
    LAPANGAN JATI DIRI TERLALU KERAS, JADI BISA MEMPENGARUHI KENYAMANAN JNLNYA PERTANDINGAN. MOHON BLI MENINJAU ULANG
1

Leave a Reply