Domain For Sale! You can buy this domain

Ligasiana

BLI Menganggap Sebagai Hal Yang Wajar

Keinginan PSIM Yogyakarta, PSS Sleman dan Persiba Bantul tidak melanjutkan sisa pertandingannya di musim kompetisi 2006 dianggap wajar meski menyulitkan posisi Badan Liga Indonesia (BLI). Kondisi fisik infrastruktur dan psikis yang tidak memungkinkan dari tiga daerah itu --setelah dilanda gempa bumi Sabtu (27/5) pagi lalu- membuat BLI mau tidak mau harus merelakan PSIM, PSS dan Persiba Bantul mundur dari gelanggang pertarungan.

Di sisi lain, ke depannya, BLI akan membuat aturan lebih tegas menyangkut kendala-kendala yang menghambat kompetisi berkaitan dengan hal yang sifatnya force-majeure, seperti bencana alam berupa banjir, gempa bumi atau gunung meletus yang menyebabkan adanya tim peserta yang mundur atau mengundurkan diri dari kompetisi.

"Saya sepenuhnya bisa memahami keinginan mundur PSIM, PSS Sleman dan Persiba Bantul itu. Dari laporan yang kami terima, kondisi fisik bangunan stadion di sana kini sangat memprihatinkan. Di segi psikis, sebagian besar masyarakat tentunya lebih memikirkan kelanjutan kehidupannya, bukan masalah sepakbola," papar Udik Djanuantoro, manajer tim Persekabpas Pasuruan, Kamis (1/6).

"Kelihatannya sangat tidak mungkin bagi mereka untuk melanjutkan kiprahnya di musim kompetisi ini, dan saya kira logis saja kalau BLI tidak bisa memaksakan mereka harus tetap bertanding," ujar Ramli Lubis, manajer tim PSMS Medan yang dihubungi pada kesempatan terpisah.

Sementara itu, menurut keterangan Manajer Kompetisi BLI Djoko Driyono, dari ketiga klub yang meminta mundur dari kompetisi 2006 ini, kondisi PSS Sleman sebenarnya masih bisa memungkinkan untuk tetap melanjutkan sisa pertandingannya di putaran kedua Liga Djarum 2006. "Seluruh pemain PSS Sleman baik lokal mau pun asingnya juga mengaku masih ready untuk melanjutkan pertandingan," kata Djoko Driyono.

Namun, menurut Udik Djanuantoro, BLI sulit untuk membuat kebijakan yang berbeda pada ketiga klub di atas karena secara umum mereka mengalami musibah yang sama. "Kita juga tidak bisa secara spontan mengatakan bahwa keinginan manajemen PSS untuk mundur karena sekarang mereka berada di zona degradasi Wilayah II itu," tegasnya.

Dalam pertemuan di Solo, Rabu (31/5) siang, wakil dari PSIM, PSS Sleman dan Persiba Bantul secara terbuka sudah menyatakan ketidaksiapan dari masing-masing timnya untuk melanjutkan sisa pertandingannya di musim kompetisi 2006, divisi utama, divisi satu dan Piala (Copa) Indonesia.

Mereka juga meminta BLI tidak mendegradasikan posisi mereka. Dalam hal ini, pimpinan PSIM, PSS dan Persiba Bantul meminta BLI memberi fasilitas special exemption, sebagaimana yang diberlakukan kepada klub-klub asal Nangroe Aceh Darussalam (NAD) yang terkena dampak langsung musibah tsunami 25 Desember 2004 lalu.

Menurut Udik Djanuantoro, tidak masalah kalau BLI nantinya memberlakukan hal special exemption kepada tiga klub tersebut khususnya untuk musim kompetisi 2007 mendatang. Namun demikian, katanya, BLI juga harus tetap memikirkan kiprah dari klub lainnya di sisa musim kompetisi 2006 ini.

Berkaitan dengan itu, Udik Djanuantoro dan Ramli Lubis berpendapat bahwa tidak menjadi masalah jika BLI tetap menggelar rangkaian pertandingan kompetisi reguler 2006 tanpa mengikutsertakan PSIM, PSS mau pun Persiba.

"Nantinya bisa saja BLI memberikan kemenangan 3-0 kepada klub-klub yang menjadi lawan dari PSIM, PSS atau Persiba Bantul baik di disvi utama, Divisi satu dan Piala Indonesia," kata Udik.

Solusi yang lain, menurut Ramli Lubis, BLI menghapus hasil-hasil pertandingan dari PSIM, PSS, dan Persiba Bantul dengan klub-klub lainnya. "Ini bisa saja diberlakukan sejak putaran pertama atau hanya sejak di putaran kedua saja," kata Ramli Lubis, yang juga Wakil Walikota Medan itu.
(adi (pssi-football.com))

0 komentar untuk "BLI Menganggap Sebagai Hal Yang Wajar"

Leave a Reply