Domain For Sale! You can buy this domain

Opini Bola

Piala Dunia Dalam Memori Sepakbola Indonesia

Kampoeng Bola Senayan yang dihadiri oleh ribuan orang, ada pertanyaan menggelitik. Heran ya kok kita bisa begini? Piala Dunia berlangsung nun jauh di sana. Piala Dunia jauh dengan sepakbola kita. Tapi, lihat saja sambutan yang begitu gemuruh saat Zinedine Zidane mencetak gol lewat tendangan penalti. Pendukung Prancis bersorak sorai. Mereka tidak mau tahu apakah Zidane kenal dengan kita atau tidak.

Begitu pula ketika Marco Materazzi membuku gol balasan lewat kepalanya, giliran pendukung Italia gemuruh menyambut hasil itu. Mereka juga tak mau tahu apakah Fabio Cannavaro dkk. mengenal mereka atau tidak. Kelakuan mereka yang rata-rata penggila bola masih bisa dimaklumi. Tapi, kalau seorang menteri, lalu Ketua Umum KONI Pusat, hingga akhirnya seorang Presiden berbicara bahwa suatu saat Indonesia bisa hadir di Piala Dunia, saya jadi bertanya-tanya: jangan-jangan kita sudah gila beneran? Atau beginilah saking besarnya sihir Piala Dunia.

Kegilaan kepada Prancis masih dimaklumi, karena dikaitkan dengan rasa kagum. Begitu pula dengan kegilaan kepada pemain-pemain Italia. Nah, kalau sudah mengagumi PSSI? Nasionalisme boleh, tapi kalau sudah terlewat batas, nasionalisme menjadi hilang. Kalau memang berharap kepada sepakbola Indonesia ke Piala Dunia, kenapa tidak bisa mulai dari yang kecil dulu. Mulailah dari PSSI itu sendiri. Semestinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika mengajak nonton bareng di Istana Merdeka, bertanya dulu kepada Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, kemana Ketua Umum PSSI, kok tidak hadir?

Setelah bertanya atau pura-pura bertanya, mestinya nonton bareng itu dibubarkan. Presiden mestinya merasa malu, kalau kita nonton produk dunia tapi barang lokal sendiri kurang perhatian. Atau saat itu Presiden tidak bertanya sementara sang menteri juga pura-pura tidak tahu saja. Sehingga suasana itu seolah berada di luar alam nyata.

Bukan hanya merasa tersihir, Piala Dunia yang baru saja berakhir itu memang seperti terjadi di alam mimpi, seperti dalam film-film Hollywood yang skenario atau pun jalan ceritanya di luar alam nyata kita. Italia menjadi juara dengan dorongan besar oleh kasus beberapa pemainnya di dalam negeri. Zinedine Zidane menjadi pemain terbaik dengan kondisi yang masih simpang siur, kontroversial!

Jerman tampil dengan permainan yang di luar perkiraan masyarakatnya sendiri, meninggalkan gaya diesel dan menjadi lebih dinamis. Hingga mereka melahirkan Lukas Podolski dan Miroslav Kloses sebagai pemain muda terbaik dan pencetak gol terbanyak. Brasil yang bermain seperti orang kekenyangan walau Ronaldo menorehkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang Piala Dunia dengan 15 gol. Dan banyak lagi mimpi-mimpi itu.

Mimpi itu berada di awang-awang kita. Kini tapak kita berada di bumi lagi, di bumi Indonesia yang mulai Senin (17/7) memutar kompetisi 8 Besar Liga Indonesia. Dapatkah mimpi-mipi itu terwujud di Stadion Petrokimia maupun Manahan? Wow terlalu jauh. Sihir lain justru terjadi di Liga Indonesia. Para penonton, penitia, pengurus, maupun pengamat sepertinya terus memaklumi kondisi Ketua Umum PSSI yang kini menjadi pesakitan di dalam penjara.

Sebagai penonton Piala Dunia, sering kali kita melihat petinggi-petinggi negara maupun organisasi sepakbola hadir di tribun VIP menyaksikan pertandingan. Kehadiran mereka menjadi dorongan baut tim. Pemain, pelatih dan pengurus menjadi terpacu. Nah, kalau yang ada di negeri kita sang ketua umum justru berada di balik terali besi. Bagaimana tim maupun pemain bisa terdorong motivasinya? Bagaimana pula dengan pelatih, ofisial, wasit, penonton, dan pengurus lainnya?

Alih-alih bahwa pendelegasian wewenang sudah cukup sebagai penutup persoalan bui Ketua Umum, sebenarnya sudah bisa dijawab dalam sebulan Piala Dunia itu. Presiden FIFA, Sepp Blatter tak beranjak barang sehari pun dari Jerman. Banyak sekali presiden-presiden federasi peserta mendampingi timnya hingga menjadi ketua delegasi. Artinya, kehadiran secara fisik tokoh tertinggi sepakbola sangat penting dalam memajukan persepakbolaan negeri itu. Maka, kita harus siap menyaksikan laga 8 Besar Liga Indonesia dengan kualitas yang amburadul. Kualitas bukan hanya untuk pemainnya, tapi juga wasit, pelatih, ofisial, hingga penontonnya.

Sebenarnya kualitas minus sudah lama terjadi. Namun, penurunan semakin tajam setelah PSSI tidak lagi memiliki Ketua Umum yang berkantor di Senayan. Permainan tim peserta Liga Indonesia tak ada yang menonjol. Secara signifikan merembet kepada kualitas pemainnya. Tak muncul talenta spesial dalam individu pemain. Dari sisi manajemen kepengurusan, tokoh-tokoh yang tenaganya dibutuhkan dalam even internasional tidak lagi menonjol. Kita juga tidak lagi memiliki wasit internasional yang sering bertugas di kancah internasional.

Soal dana? Sami mawon. Hadirnya kembali Nirwan Bakrie yang membawa Timnas U-23 ke Belanda bisa jadi akan meninggalkan masalah dana. Ketika ingin berangkat mereka berharap sumbangan dana dari KONI maupun Pemerintah. Ironisnya, dua lembaga pengontrol kualitas olahraga itu menyetujui program instan yang memakan dana puluhan miliaran rupiah itu. Padahal kalau diurus dengan baik, kompetisi Liga Indonesia yang tak henti diperebutkan sponsor itu, bisa mendatangkan keuntungan guna membiayai Timnas. PSSI tidak perlu lagi menjerit dana operasional maupun teknis.

Kalau di Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga-liga Eropa kita sering “disihir” oleh besarnya keuntungan yang diraup FIFA maupun UEFA dan organisasi liga Eropa, di sini kita sering terkena sihir yang lain. Sponsor berebut, penonton berjubel, tapi panitia berakhir dengan setumpuk utang. Kita mau bekerja keras untuk menggelar kejuaraan, sementara ketua umum kita terbukti bersalah melakukan korupsi.

Adakah penyihir lain yang mampu melawan “sirepan” ini?
(phery)

6 komentar untuk "Piala Dunia Dalam Memori Sepakbola Indonesia"

  • dani di sumedang pada 01 Januari 1970 00:00:00
    kapan sepak bola indonesia bisa menyamai permainan sepak bola luar negeri kalau pakai fisik bukan otak
  • badila di makassar pada 01 Januari 1970 00:00:00
    kalau indonesia sungguh2 ingin masuk piala dunia bisa aja tapi harus ada pemain muda-nya seperti saya ...ha ha ha... (mimpi kali lho masuk piala dunia
  • Kadier di Bojong kab.Bogor pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Para pengurus pssi jangan bisanya hanya janji aja,katanya bisa memberantas kericuhan d setiap pertandingan superliga ini,tpi nggak ada bukti sama sekali, contohnya;pertandingan antara persib vs persija,suporter persib kembali mericuhkan pertandingan,
  • Ardy di Makassar pada 01 Januari 1970 00:00:00
    kalo mau mimpi ikut piala dunia PSSI harus hidupkan liga mulai dari U12, U16, U18 baru kita bisa bicara prestasi untuk 5 tahun ke depan dgn catatan harus di pegang oleh org2 yg ahli di bidangnya (sepak bola) bukan org2 yg cari ke untungan di atas penderit
  • Indra di Boro mania pada 01 Januari 1970 00:00:00
    Selamat atas kemenangan persipura PERSIPURA atas deltras 4-0,maju terus persipura jangan sampai kecewakan lg suporter fanatikmu!
  • febri di indonesia (malang) pada 01 Januari 1970 00:00:00
    SELAMAT untuk team laskar wong kito menjuarai piala copa indonesia 2007 setelah menglhkan persipura dgn drama adu pinalti,untk rahmat putra daerah asal lampung,berusaha trus bwhkan sriwijaya menjuarai turnamen brgengsi,dan jgn trpengaruh iming2 pembyaran
1

Leave a Reply