Opini Bola

The Infrastructure

Masa depan Superliga 2008 yang didengungkan semenjak setahun lalu tidak secercah harapannya. Sudah sekian tahun ini penggemar bola Indonesia disuguhi aksi unsportivitas dan inkonsistensi dari Liga Indonesia itu sendiri. Bahkan 3 dari 4 musim penyelenggaraan liga terakhir harus dilalui secara ekstrim. Sistem kompetisi tiada degradasi seperti penyelenggaraan NBA, Kompetisi Bola Basket yang tersohor di dunia. Bedanya mereka tidak seenaknya mengatrol 18 klub ke Divisi Utama hanya dalam kurun waktu 3 tahun saja.


Di musim kompetisi 2006, PSSI membuat terobosan dengan menggelontorkan ide digulirnya Superliga. Suatu terobosan spektakuler dalam perjalanan Sepakbola Indonesia. Ekses positifnya di masa mendatang kita bisa menyaksikan penyelenggaraan Liga Indonesia yang lebih profesional dan konsisten. Meliputi unsur-unsur penyelengaraan pertandingan, klub, suporter hingga lembaganya sendiri seperti PSSI dan BLI. Sedangkan efek negatifnya Superliga ini dijadikan kambing hitam atas sikap inkonsistensi PSSI/BLI dalam penyelenggaraan liga Indonesia. Utamanya Kedua lembaga tersebut layaknya sebuah tim penyelamat SAR yang bertugas menolong klub-klub dari terpaan degradasi dan APBD.


Masterplan Superliga sendiri menyangkut kebutuhan Indonesia demi memenuhi prestasi yang lebih baik dalam dunia sepakbola. Ini adalah sesuatu yang positif untuk persepakbolaan Indonesia. Superliga menjadi impian banyak klub dan untuk meraihnya dibutuhkan pekerjaan yang tidak mudah. Hanya ada 18 klub Divisi Utama sekarang ini yang menganggap Superliga hanya sebatas mimpi di akhir musim kompetisi nanti.


Konsep Superliga 2008 sudah dinyatakan "matang" oleh Ketua BLI, Nirwan D. Bakrie. Namun jika melongok ke arah persiapan Superliga ini keadaannya masih berada dalam taraf "memprihatinkan". Hal ini menyangkut persiapan aparat pertandingan, lembaga, hingga kearah klub sebagai peserta dan suporter/penonton sebagai konsumen. Namun yang paling mencolok adalah tersedianya sarana fisik yang memadai meliputi infrastruktur stadion, lapangan dan sarana pendukungnya yang memadai dan memenuhi standar BLI.


Ada beberapa persyaratan BLI mengenai hal ini diantaranya meliputi kapasitas stadion(min. 30.000 penonton dalam kondisi duduk), struktur lapangan disertai drainase yang memadai, Penerangan stadion (min. 1400 lux), akses ke lokasi yang mudah(100 km/2 jam dari bandara internasional dan maks 30 menit dari penginapan terdekat)beserta infrastruktur lainnya seperti fitness center, lapangan latihan, area medis, dll yang kesemuanya memiliki spesifikasi tersendiri.


Pertanyaannya ada berapa klub di Indonesia yang sudah memenuhinya? Mungkin benar apa kata sebagian penggemar bola di Indonesia bahwa Gelora Bung Karno saja yang memenuhi standar BLI. Meskipun Gelora Bung Karno bukanlah milik salah satu klub peserta Liga Indonesia.


Hanya ada 6 stadion di Indonesia yang memenuhi standar penyelenggaraan Superliga, dan sebagian besar harus dilakukan revisi penilaian BLI menyangkut kondisi lapangan, kapasitas stadion, dsb. Bahkan Stadion Gajayana Malang yang kabarnya sudah memenuhi standar internasional AFC tidak memenuhi penilaian wahid dari BLI. Apa karena Gajayana bukan The New Wembley yang sudah tersohor wibawa dan kharismanya. Who knows.


Hitungan Superliga ibarat menunggu nyala lilin yang menyala. Tidak ada waktu panjang untuk memenuhi semua kriteria penilaian BLI. Lebih dari 75% klub di Indonesia justru berada dalam keadaan sedang tidak melakukan sesuatu yang "berarti" untuk memenuhi kriteria BLI dalam penyelenggaraan Superliga di tahun 2008. Maklum, mereka lebih memilih menyerahkan masalah ini kepada Pemerintah Daerah masing-masing dibandingkan menghamburkan dana untuk membangun sarana(baca : stadion dan sarana pendukung) yang representatif untuk Superliga 2008. Setidaknya sebagian besar klub di Indonesia disibukkan dengan upaya mendapatkan dana APBD tahun depan sekaligus eksis dalam persepakbolaan Indonesia.


Perjalanan Liga Indonesia 2007 sendiri baru memasuki pekan ke 28(sebagian 30), tinggal 10 pertandingan lagi untuk memastikan 18 tim yang lolos ke Superliga. Andai hitungan matematis bisa diandalkan tak sulit memilah 18 tim yang akan lolos nantinya. Meski sebagian besar diantaranya pada saat ini boleh dibilang belum berkata "SIAP" untuk mengikuti Superliga tahun depan.


The Solution? pandangan Satujiwa kali ini mencoba berdiri di antara dua sisi. Artinya problema yang terjadi pada masalah ini tidak bisa dialamat kepada salah satu pihak. Konsep Superliga ini bagus tetapi tidak memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkannya. Ditambah lagi Peraturan Mendagri nomor 59/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sekaligus memupuskan harapan sebagian besar Klub "Negeri" untuk memanjakan diri dengan kucuran dana APBD.


Jika ditilik lebih lanjut Permendagri ini menyajikan solusi positif untuk masalah diatas. Dengan tidak terpakainya dana APBD untuk membiayai Klub Sepakbola, bisa digunakan untuk membangun/renovasi stadion dan sarana pendukung lainnya. Lebih dari 80% klub Divisi Utama mereguk dana APBD sebesar 10-15 Miliar rupiah. Meski kekurangannya ditambah dari APBN dan Anggaran Pemprov. Apabila dana tersebut digunakan untuk membangun/renovasi stadion, paling tidak akan tercipta sebuah pemandangan yang "eye catching" saat menyaksikan siaran langsung sepakbola Indonesia. Ditambah lagi dengan pembenahan infrastruktur ini akan menunjang kebutuhan Superliga di tahun depan. Utamanya menyangkut keamanan dan kenyamanan penonton selaku konsumen beserta pihak yang terlibat di kompetisi Superliga tersebut.


Kita memang harus miris hati mengingat sempitnya waktu untuk melakukan perubahan ini ditambah birokrasi pemerintah yang mengharuskan "proyek" ini tidak dapat selesai dalam waktu singkat. Ditambah lagi tidak adanya pemahaman dari beberapa Klub tentang fungsi pembenahan infrastruktur ini sebagai investasi di masa mendatang daripada sekedar menghabiskan puluhan miliar rupiah hanya kurun waktu 1-2 tahun saja.


Di sisi lain sebagian besar pelaku sepakbola Indonesia tampaknya tidak siap untuk menyikapi perubahan yang ada. Kalimat yang mungkin cocok adalah karena sebagian pelaku sepakbola negeri ini tidak siap untuk mempersiapkan sesuatu untuk jangka yang panjang. Karena itu kata pesimis akan dijadikan jawaban oleh publik penggemar bola di Indonesia. Andai BLI mewajibkan klub untuk memenuhi standar BLI yang ditetapkan sebelum mengikuti Superliga maka jawaban ekstrem yang akan muncul adalah : Tunda atau Batalkan Superliga!. Pada kenyataannya tidak mungkin mengerjakan proyek mercusuar ini tanpa disertai sarana pendukung yang mumpuni. Bisa jadi Superliga tahun depan akan seperti Divisi Utama sekarang ini.


Ad astra per aspera (Sampai ke bintang dengan susah payah). Jalan kedepan memang belum selapang yang diharapkan.


Salam Satu Jiwa


www.satujiwa.net

(Oke Raharjo)

447835 komentar untuk "The Infrastructure"

Leave a Reply