Domain For Sale! You can buy this domain

Pemikiran

Ironis Bila Wasit Sudah Tidak Dipercaya

Opini publik tentang wasit yang memimpin di kompetisi Liga Indonesia sering bersifat apriori dan minor. Wasit sering dijadikan sasaran kambing hitam apabila tim yang dibelanya kalah atau seri.

Ketidakadilan wasit dalam memimpin pertandingan sebetulnya sangat kasat mata dilihat oleh para penonton, supporter maupun pemirsa TV. Meskipun banyak diantara mereka yang kurang tahu peraturan resmi FIFA yang berlaku di lapangan pertandingan, tapi mereka tahu dan merasakan bahwa wasit yang memimpin sering bertindak ceroboh mengeluarkan kartu dan keputusan aneh yang menguntungkan tuan rumah.

Tindakan ragu-ragu dan plin plan wasit dalam menetapkan suatu keputusan sering terjadi dalam pertandingan Liga Indonesia. Hal tersebut bisa terjadi bila dalam pertandingan tersebut teror penonton/ suporter yang begitu membahana , dan adanya tekanan manajemen tuan rumah agar memihak timnya.

Kejadian-kejadian diatas sebenarnya disa diatasi apabila PSSI esbagai lembaga tertinggi dalam sepakbola Indonesia segera tanggap akan hal tersebut. Masalah-masalah mendasar yang sering terjadi seperti kualitas wasit, suap, tingkat kebugaran, tekanan/ terror tim tuan rumah, dan keamanan wasit, sebaiknya sedini mungkin dihandle oleh PSSI.

Untuk masalah kualitas wasit bisa diatasi dengan membuat suatu lembaga pendidikan resmi seperti layaknya universitas yang menggodok calon-calon wasit di Indonesia. Lembaga pendidikan tersebut membuat kurikulum resmi yang mengacu pada perauran resmi yang berlaku di FIFA dan sebaiknya sekolah wasit tersebut berafiliasi dengan lembaga sejenis yang diasuh oleh FIFA.

Untuk membuat sekolah wasit tersebut PSSI bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait seperti FIFA, AFC, Sponsor dan Universitas yang concern dengan olahraga seperti perbanas, Univ Negeri Jakarta, UI dll.

Untuk meningkatkan kualitas wasit yang dididik dalam univ tersebut sebaiknya diadakan suatu tes seleksi penerimaan calon peserta pendidikan wasit. Untuk penerimaan calon peserta pendidikan wasit, dapat dilakukan melalui suatu grade pendidikan tertentu, seperti lulusan SMA untuk wasit divisi II, Lulusan D3 untuk kompetisi Divisi I dan yang divisi utama sebaiknya seminimal mungkin lulusan S1.

Kualifikasi pendidikan wasit untuk memimpin Liga Indonesia sebenarnya bukanlah diskriminasi melainkan untuk meningkatkan kualitas nalar dan logika wasit dalam memutuskan suatu tindakan di lapangan. Selain pendidikan, sebenarnya factor pengalaman dan jam terbang wasit dalam memimpin pertandingan juga penting dan perlu untuk menjadi pertimbangan dalam menentukan grade wasit.

Pendidikan psikologi untuk wasit penting juga untuk diajarkan dan diterapkan dalam kurikulum lembaga pendidikan tersebut. Pendidikan psikologi tersebut adalah mengenai cara dan trik wasit dalam menghadapi tekanan pemain, penonton/ supporter dan manajemen tuan rumah juga sangat diperlukan agar wasit “pede” dalam memimpin pertandingan.

Untuk masalah suap yang sering melanda perwasitan Indonesia, bisa diatasi dengan pengambilalihan pembayaran honor wasit langsung oleh komisi wasit PSSI. Dana untuk pembayaran honor wasit bisa diambil dari hasil sponsor resmi Liga Indonesia atau beban fifty-fifty antara klub dengan PSSI.

Suap dapat ditangkal apabila honor yang diberikan kepada wasit sesuai dengan tingkat pekerjaan yang telah dilakukannya. Selain honor, wasit semestinya juga mendapatkan jaminan akomodasi dan transportasi yang layak. Pemenuhan kebutuhan pokok tersebut diperlukan agar konsentrasi wasit tidak terpecah ke masalah lainnya.

Dengan kondisi yang fit dan cukup istirahat, maka diharapkan wasit dapat memimpin pertandingan dengan relax, tegas dan berwibawa. Untuk menangkal suap, wasit yang akan memimpin pertandingan tidak diperbolehkan bertemu dengan salah satu pihak/ tim yang akan berlaga di pertandingan.

Sanksi yang tegas terhadap pelaku suap perlu juga diberlakukan sebagai shock terapi bagi pihak-pihak lain yang tergiur untuk berbuat serupa. Selain sanksi organisasi, sebaiknya apabila telah cukup bukti, segeralah limpahkan perkara suap tersebut ke pihak penyidik, karena hal tersebut telah masuk dalam ruang lingkup pidana.

Masalah keamanan wasit yang selama ini dikeluhkan oleh para wasit sebaiknya segera diselesaikan dengan meningkatkan jaminan keamanan yang terpadu antara polisi, panpel dan PSSI. Wasit harus dilindungi keamanan jiwanya dari ancaman terror fisik maupun non fisik, sejak berangkat dari kantor/ rumahnya sampai ke arena pertandingan.

Jaminan keamanan ini sebaiknya segera dipraktekkan agar jangan hanya menjadi slogan belaka dan dengan perasaan aman tersebut wasit dapat dengan tenang memimpin pertandingan. PSSI dapat memberikan sanksi pada tuan rumah atau panpel apabila mereka tidak berani atau tidak mampu memberikan jaminan keamanan kepada wasit.

Dan apabila ada tuan rumah atau panpel yang terbukti menekan atau bahkan meneror wasit, atas dasar laporan dan bukti dari wasit maka PSSI dapat memberikan teguran dan sanksi sesuai tingkat kesalahan mereka.

Tingkat kebugaran wasit yang memimpin pertandingan di kompetisi Liga Indonesia sebaiknya perlu ditingkatkan secara bertahap dengan tes-tes fisik yang dilakukan setiap bulan sekali. Apabila kondisi wasit yang akan memimpin pertandingan meragukan sebaiknya segera ganti dengan wasit cadangan yang kualitasnya setara atau bahkan melebihi.

Kebugaran wasit sebaiknya juga harus dibebankan tanggung jawabnya kepada para wasit, ini agar para wasit selalu menjaga kebugaran dan kesehatan mereka dengan jogging dan olahraga lain yang menunjang. Untuk masalah kesehatan tersebut PSSI bisa menetapkan batas VO Max tertentu yang setara dengan atlet, karena terkadang gerak wasit lebih capai disbanding pemain bola yang berlaga di lapangan. Tingakat kebugaran fisik yang baik akan sangat membantu agar konsentrasi wasit dalam memutuskan peraturan tetap terjaga.

Sistem degradasi untuk wasit juga perlu diterapkan kepada wasit-wasit yang rapornya sering merah. Sistem degradasi tersebut diterapkan agar wasit senantiasa menjaga penampilan dan tindakan mereka dalam memimpin pertandingan. Untuk degradasi dilihat dari factor nilai rapor wasit, usia dan tingkat kebugaran dari sang wasit. Selain ituberikan juga penghargaan kepada wasit yang dianggap terbaik permusim kompetisi.

Daftar peringkat wasit dapat dibuat melalui pantauan langsung PSSI, Klub, Wartawan dan pengamat bola. Dengan penilaian yang transparan dan fair terhadap wasit tersebut, diharapkan wasit yang selama ini selalu dipojokkan oleh banyak pihak dapat merasa dihargai sebagai salah satu pihak yang penting dalam perkembangan sepakbola Indonesia.

Setelah melihat dan membahas permasalahan wasit yang memimpin pertandingan di Liga Indonesia, kita dapat berkaca apakah kita sudah memenuhi hal-hal tersebut diatas?. Artikel ini dibuat bukan untuk memvonis para wasit, ini hanya untuk sekedar mengingatkan saja, karena saya yakin masih banyak wasit yang berkualitas dan bertanggung jawab dalam mengemban tugasnya.

Untuk para wasit kita semua berharap agar dapat saling instropeksi dan memperbaiki citra baru yang lebih baik dan berkualitas. Kepada PSSI saya menghimbau agar segeralah realisasikan hak-hak dari wasit dan benahilah hal-hal yang kurang benar selama ini.

Best Regards,

Panji Kartiko SH
- Dubes Pasoepati Jakarta 2000-2003
- Anggota pengurus ASSI
- Dewan Penasehat Pasoepati Jakarta 2004 - sekarang(Panji Kartiko SH)

1 komentar untuk "Ironis Bila Wasit Sudah Tidak Dipercaya"

  • Baba di indonesia pada 01 Januari 1970 00:00:00
    top banget...
1

Leave a Reply